nalar

Antara Kisah Imajinasi dan Kisah Faktual

Antara Kisah Imajinasi dan Kisah Faktual

Sejak masa kecil, selalu disuguhi kisah para bidadari yang turun dari kayangan melalui titian pelangi usai gerimis di sore hari. Mereka turun ke  bumi mandi di sebuah telaga jernih.  Salah seorang di antara mereka dapat sial, dia raib pakaiannya membuat kehilangan kekuatan macik kembali ke peraduannya di Kayangan, maka jadilah rebutan para pria bumi untuk meraih hati sang bidadari cantik jelita itu.

Selepas Sekolah Rayat, saya pun jumpa lagi kisah ini lewat buku bacaan. Sekarang kisah bidadari tetap bisa dlitemukan dengan berbagai versi. Bahkan di era digital sekarang bisa di-search lewat you tobe. Kisah ini tidak lebih dari khayalan belaka atau imajinasi manusia.

Mungkin sengaja difilmkan via you tube sebagai penghargaan atas kemampuan imajinasi manusia, sekaligus bahan studi para sinaes dalam mengembankan produksi flilm imajiner seperti film Putri Matahari yang sedang diputar di biskop Transmedia indiHome, ternyata banyak pula penggemarnya.

Kedua, sudah menjadi kebisaan, selesai Jumat dan wiridan, apalagi jika bertidak sebagai khatib, saya tidak langsung beranjak dari tempat duduk, tetapi menunggu dahulu umpan balik atas respon jamaah tentang materi khotbah yang baru saya sampaikan atau mungkin ada masalah ke-IMMIM-an yang ingin jamaah komunikasikan.

Benar saja, ketika selesai Jumatan di Masjid Babussa'adah, jalan macan, seorang jamaah yang mengaku sebagai seorang jaksa, mendekati saya dan menceritakan pengalamannya. "Ketika Baharuddin Lopa yang sering disapa Barlop, bertugas di Sulawesi Selatan sebagai kepala kejaksaan," demikian memulai kisahnya.

"Saat itu, jam kantor sudah selesai," tambahnya. Barlop sudah melangkah keluar kantornya menuju mobil, sambil berkata pada sopirnya, "Saya lihat tadi bensin mobil sudah berkurang, maka kita singgah dahulu di pompa bensin mengisinya."

"Sudah diisi Pak," sahut sang sopir.  "Siapa yang isi?" lanjut Barlop. "Itu tadi tamu Bapak," jawab sang sopir lugu. "Kita ke pompa bensin dan suruh petugasnya mengeluarkan dahulu bensin itu, kemudian baru diisi ulang dan harus dibayar," perintah Barlop.

Kelihatannya Barlop tidak ingin merusak ruputasinya dengan utang budi dari siapa pun yang bisa mempengaruhi nuraninya untuk menegakkan hukum yang seadil-adilnya. Kisah Barlop ini, seperti tidak masuk akal bagi sebagian orang. Beda dengan kisah bidadari di atas berupa kisah khayali.

Kisah Barlop faktual dan terjadi dalam realitas serta masih bisa di validasi kepada penuturnya sebagai sumber primer. Sayang sekali sudah hampir dua dekade almarhum pergi meninggalkan kita, tetapi belum tanpak tanda-tanda orang yang bisa menggantikannya sebagai penegak keadilan yang memiliki integritas sama dengan almarhum.

Apalagi jika kita mengikuti perkembangan terakhir, seperti Jaksa Punaki Sirna Mayasari yang bertugas di Kejaksaan Agung RI, ia menerima sogokan dari seorang boronan kakap sejumlah 7,2 miliar yang melibatkan pengacaranya dan dua jenderal polisi aktif. Belum lagi korupsi Jiwasraya 16 miliar oleh Direkturnya sendiri.

Sungguh mengkhawatirkan dan mengerikan negeri ini, jika saja pagar sudah mulai makan tanaman. Saya sendiri belum paham persis, tanda-tanda apa yang sedang melanda negeri tercinta ini.

Penulis: Ahmad M. Sewang

Guru Besar UIN Alauddin Makassar