nalar

Benarkah Islam Agama Damai?

Benarkah Islam Agama Damai?

Keterangan Gambar : istimewa

Benarkah Islam Agama Damai, apa yang bisa dijadikan rujukan untuk membuktikan hal itu?

Demikian pertanyaan salah seorang peserta dialog kerukunan umat beragama kepada penulis yang kebetulan saat itu dinobatkan sebagai narasumber. Sebagai orang yang minim pemahaman keagamaan, tentulah pertanyaan itu sangat sulit dijawab. 

Baca juga: Sambangi Kantor PBNU, Menag Sampaikan Pesan Presiden

Apalagi penulis bukanlah tipikal narasumber selevel kiyai atau akademisi yang paham tentang sejarah dan ajaran Islam secara mendetail. Bahkan dalam keseharian, penulis sebenarnya lebih suka menjadi pendengar, ketimbang menjadi penutur.

Meski demikian, karena “tersandera” status sebagai narasumber, maka mau tak mau, penulis harus bisa memberi jawaban, meskipun mungkin tidak memuaskan. Menjawab pertanyaan itu, penulis berupaya mengacu pada dua rujukan yang menurut saya ajaran dasar dalam Islam, yaitu;  

Pertama; Anjuran untuk senantiasa menyampaikan salam. Menurutku, ada begitu banyak anjuran soal ini, diantaranya hadist yang berbunyi ifsyahu salam bainakum (sebarkan kedamaian diantara kamu). Esensi utama yang mendasari hadist ini adalah cinta dan kasih sayang. 

Sejauh pemahaman penulis, salam adalah ungkapan lisan yang sekaligus bermakna doa ditujukan kepada orang-orang selain kita. Dengan salam, kita mendoakan keselamatan orang tersebut. Menyebarkan salam, berarti menyebarkan keselamatan, kedamaian dan perdamaian.

Salam adalah simbol dan sekaligus wujud penghargaan kemanusiaan yang didasari oleh nilai-nilai kasih sayang. Salam juga bisa bermakna kepedulian dan sekaligus ikrar perlindungan akan hak dan keberadaan orang lain. 

Ibnu Arabi dalam kitabnya berjudul Ahkam Al-fuqaha menyampaikan, orang yang memberi salam kepada orang lain berarti ia telah menjamin keselamatannya. Dengannya, sipenutur salam tidak akan melakukan kekerasan, penipuan, ketidakadilan, apalagi kedzaliman. 

Makanya itu, dalam Islam, salam tak hanya sekadar ucapan, tapi juga perbuatan, atau dalam artian perintah salam tidak hanya berakhir di lisan penuturnya, tapi juga harus bisa dibuktikan dalam laku perbuatan. Perkataan atau ucapan yang baik, namun tidak disertai  dengan perbuatan baik, akan mendapat kecaman dari Allah Swt. 

Hal itu bisa dilihat pada ayat, yang artinya; Amat besar kebencian di sisi Allah SWT, kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. (Qs. As-Shaff, ayat 3). 

Meski demikian,  yang menjadi persoalan adalah objek salam. Pemahaman soal ini, dalam Islam tidaklah tunggal. Ada yang berpandangan bahwa ucapan salam hanya boleh dilakukan atau berlaku terhadap sesama umat Islam saja. 

Sementara pandangan lain mengatakan, salam itu berlaku untuk siapa saja, tanpa melihat latar belakang agama, suku dan bangsanya. Alasannya, salam tak hanya sekadar ucapan (kata benda), tapi juga kata kerja yang butuh pembuktian dalam kehidupan sosial bersesama.

Atas dasar itu, tanpa bermaksud menyalahkan pandangan pertama, penulis lebih memilih pandangan kedua, karena lebih cenderung terbuka, serta selaras dengan realitas kehidupan sosial penulis yang plural dan multikultur.

Sealain itu, menurut hemat kami, pandangan kedua di atas sejalan dengan ayat wama arsalnaka illa rahmat lilalamin (tidaklah kami mengutus engkau Muhammad kecuali menjadi rahmat bagi alam semesta), serta ayat lain yang berbunyi walaqad karramna bani adam (sungguh Allah memuliakan anak cucu adam).  Dengan salam, kita bisa menginplementasikan Islam sebagai agama rahmat, minimal menghargai keberadaan mahluk Tuhan bernama manusia, yang dimuliakan-Nya.

Secara jelas, Quran Surat Al-Isra Ayat 70 itu, tidak menyebutkan secara spesifik agama dan suku tertentu. Atas dasar itu, umat Islam tidak dibenarkan menghakimi manusia atau suku apapun dengan alasan mereka berhak mendapat keselamatan dari kita. 

Singkatnya, Arahimuna yarhamuhum rahmanu, irhamuu ahlal ardhi yarhamkum ahlu samaa (para penyayang akan disayangi Allah, sayangi-lah penduduk bumi, maka kalian akan disayangi penduduk langit). Teks hadist ini bersifat umum, dan tentu saja berlaku kepada siapa saja.

Kedua; keteladanan Rasululah Saw. Dalam hadis shahih Muslim, tepatnya pada bab al-Qiyam Janazah diceritakan bahwa suatu ketika, jenazah orang Yahudi lewat di hadapan Rasulullah Saw. Melihat jenazah tersebut, Nabi langsung berdiri, namun pada saat yang sama, ia ditegur oleh sahabatnya dengan mengatakan;

“Wahai Rasulullah, itu jenazah orang Yahudi, kenapa engkau berdiri (menghormatinya)” Nabi Muhammad SAW menjawab, apakah dia bukan manusia? 

Riwayat ini secara tidak langsung memperlihatkan bahwasanya Nabi Muhammad Saw sangat menghargai perbedaan. Karena jangankan orang hidup, orang yang telah meninggal dunia, sekalipun berbeda agama tetap dihormati. 

Lewat riwayat ini, kita juga dapat melihat bahwasanya tradisi menghormati non muslim bukanlah ajaran yang semata bersumber dari paham liberal, melainkan ajaran yang dipraktikkan langsung oleh Nabi Muhammad Saw dalam kehidupannya. 

Olehnya itu, tidak mengherankan jika sebagian pengamat sosial mengatakan, Nabi Muhammad SAW adalah pejuang kedamaian. Hal tersebut juga dapat dilihat lewat kiprah perjuangan beliau dalam membangun tatanan masyarakat Arab dengan terlebih dahulu mengubah pola pikir mereka, dari cara berpikir kabilahisme menuju cara berpikir kosmopolit, dari tradisi yang suka perang menuju tradisi yang cinta pengetahuan, toleran dan cinta damai (Hidayat; 2012: 39:40).

Lewat jalan itu pula, Nabi Muhammad SAW mampu merajut kebersamaan menuju tegaknya peradaban kemanusiaan, yaitu peradaban yang berdiri tegak di atas keanekaragaman agama, budaya dan ras. Fakta yang bisa dijadikan bukti adalah kemampuan Nabi Muhammad Saw membangun masyarakat Madinah, dimulai sejak beliau dan sahabatnya hijrah ke wilayah tersebut. 

Di Madinah, Nabi Muhammad Saw menyaksikan langsung kenyataan sosial masyarakatnya yang begitu beragam. Melihat kenyataan sosial tersebut, tak ada niat sedikitpun baginya untuk meminggirkan mereka yang berbeda, apalagi memusuhinya. 

Justru di tegah keanekaragaman itu, Nabi Muhammad SAW hadir menawarkan jalan damai, agar setiap agama dan kelompok bebas menjalankan keyakinan dan aktivitas sosialnya dengan aman dan damai. Selain itu, saat Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, yang pertamakali dilakukan adalah mepersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar.  

Pilihan ini, selain untuk menciptakan suasana damai di kota itu, juga Rasulullah SAW ingin memperlihatkan kepada sahabatnya, bahwasanya persaudaraan jauh lebih utama ketimbang ikatan kekeluargaan. Kenapa demikian? karena ikatan persaudaraan mampu melampaui batas etnis, agama, budaya, suku, dan ras. 

Sementara ikatan kekeluargaan (sedarah) berpotensi mengiring manusia menjadi eksklusif, dan nepotisme. Olehnya itu, jika kita mencoba melihat budaya gotong royong di bangsa ini, ia tidaklah lahir dari semangat kekeluargaan, tapi lebih pada ikatan persaudaraan yang mampu melampaui batas agama, etnis, budaya dan strata sosial sekalipun. 

Pada akhirnya, konsep kedamaian dalam Islam, bukan hanya sekadar tuturan, tapi juga perilaku hidup yang tidak melihat perbedaan agama, warna kulit, dan budaya. Wujud Islam sebagai agama rahmatan lilalamin  hanya mungkin bisa ditemukan jika anjuran kedamaian itu mampu dibuktikan secara nyata dalam kehidupan keseharian kita. 

Penulis: Suaib A. Prawono

(Pegiat Perdamaian dan Pengurus LTNU Sulsel)