nalar

Benarkah Rezim Kita Antek Komunis?

Benarkah Rezim Kita Antek Komunis?

Keterangan Gambar : Sabhadin

Jika ada yang menganggap bahwa penguasa kita adalah rezim antek komunis. Maka saya dan mungkin kebanyakan orang justru menilai bahwa penguasa kita adalah rezim yang sangat anti komunis.

Kenapa demikian? Jika ditinjau dari beberapa keluaran kebijakannya, sangatlah bersebrangan dengan visi ideal komunisme menciptakan masyarakat tanpa kelas dan meniadakan kepemilikan pribadi atas ruang publik, justru penguasa kita malah lebih identik dengan rezim kapitalisme neoliberal karena industrialisasi dan privatisasinya atas aset nasional yang begitu masif bersamaan dengan pengingkaran terhadap hak-hak rakyat.

Untuk para pembenci komunis. Pelajarilah komunisme dari literatur sejarah atau buku-buku bacaan sosial lainnya yang berkaitan dengan komunisme, baik secara konseptual tentang pemikiran ekonomi politik maupun gerakan politiknya, agar tidak terdoktrin oleh propaganda sesat yang tak berdasar.

Jangan dibodohi oleh doktrin masa lalu yang masih kurang jelas kenyataannya. Ajaklah akal sehat kita untuk keluar dari belenggu stigmatik buta itu. Jangan lagi hadirkan kembali sesuatu yang sesungguhnya telah terkubur lama dan tiada. Sebab jika masih menghadirkannya dalam pikiran, maka ia akan menjadi ada sebagaimana Deschartes mengungkapkan Cogito Ergo Sum. Jika kita memikirkannya, maka kita mengadakannya, maka ia menjadi ada.

Lalu apakah dengan itu, saya akan dianggap komunis atau pendukungnya karena seakan membelanya? Jika mengatakan ya, maka saya akan menanggap "jika anda menganggap bahwa komunis adalah ateis dan anti Tuhan, maka saya punya agama dan saya ber-Tuhan ”. Itu saja jawaban sederhana saya.

Mari kita move on dari masa lalu. Hari ini kita hidup di sebuah era dimana kita diperhadapkan dengan kenyataan baru yang sungguh begitu kompleks. Tak hanya persoalan ekonomi politik yang kita hadapi. Tantangan kita tak kalah mengerikan dibanding era kolonial juga orde baru.

Saat ini, masalah kita lebih beraneka-ragam, kadang tak kasat mata, juga mungkin ada yang belum pernah terjadi dalam sejarah masa lalu di bangsa ini.

Hari ini kita banyak diperhadapkan hoax, kolonialisasi pemikiran, kapitalisasi budaya, industrialisasi pangan, politisasi agama, hingga masalah virus pun juga ada dan masih banyak lagi masalah-masalah klasik yang masih turut menyertai.

Akumulasi dari keragaman persoalan itu membutuhkan pembacaan matang dan analisa yang tajam, tentu dengan kekuatan solider yang kokoh. Hindari isu-isu yang justru menciptakan persoalan baru. Apalagi yang berdampak kepada konflik horizontal yang membenturkan sesama rakyat.

Sadarilah sekali lagi bahwa rezim ini lebih dekat dengan rezim kapitalisme neoliberal, sebuah rezim yang ramah terhadap investor, konglomerasi dan atau korporasi yang mungkin saat ini sering diistilahkan sebagai oligarki, dan itu sesungguhnya musuh besar bagi komunisme.

Jika seandainya ada komunis saat ini, maka komunis pun akan turut terlibat melawan rezim kita karena kekuasaan hari ini menciptakan kesenjangan kelas yang begitu tajam dan relasi penindasan kelas yang membuat rakyat semakin geram.

Jika kita belum move on dari kebencian komunisme yang berlebihan itu, jangan sampai kitalah yang justru memperhambat agenda-agenda perubahan sosial kita. Sebab tidak sedikit tuduhan komunis terhadap gerakan rakyat dan aktivis yang sedang berjuang, dan itu sangat mematahkan upaya perubahan bangsa kita.

Maka mari kita buktikan bahwa kita bukan bagian dari pendukung status quo ketimpangan, penyokong kekuasaan yang pro pengusaha dengan menyudahi kampanye-kampanye kebencian yang tidak memberi maslahat.

Sampaikan kritik dan perlawanan secara tepat sasaran, agar upaya perubahan menemukan relevansi hingga momentumnya, agar target perubahan bisa tercapai sesuai dengan yang kita harapkan bersama untuk bangsa ini.

Penulis: Sabhadin

Presidium Formakar Makassar