nalar

Berlebaran di Tengah Wabah Covid-19

Berlebaran di Tengah Wabah Covid-19

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Istimewa)

Jelang lebaran, warga yang tinggal di Kelurahan Lembang Gantarankeke, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Bantaeng tampak mulai sibuk. Bahkan sehari sebelum lebaran, asap tebal tampak terlihat mengepul dari rumah-rumah warga. Kata warga setempat, pemandangan seperti ini, sudah lazim terjadi jelang akhir Ramadan.

Tentu saja mereka sadar bahwa suasana lebaran tahun ini tidak akan sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun demikian, aktivitas dapur tampaknya tidak boleh ditiadakan.  Meniadakan aktivitas dapur jelang lebaran, sama halnya meniadakan kebahagiaan.

Baca juga: Saya Tidak Mudik, Jadi Tagline Komisioner Bawaslu Gowa Sambut Hari Kemenangan 1 Syawal 1441 H

Demikian pula, meski silaturahmi yang disertai makan bersama usai lebaran, kemungkinan tidak bisa dilakukan, namun makanan khas lebaran seperti buras, ketupat dan gogos yang sudah sekian tahun hadir menjadi pelengkap menu lebaran itu, tak boleh luput dari meja makan.

"Jika tidak ada orang yang datang ziarah karena Corona, ya,,, kita makan sendiri bersama keluarga," kata Kindo Al, salah seorang warga Kelurahan Lembang Gantarankeke, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Bantaeng usai salat Idul Fitri tadi.  

Bagi Kindo Al, meniadakan makanan khas lebaran, sama halnya menafikan kebahagiaan. Makanya itu,  memanjakan lidah di hari lebaran, baginya adalah keharusan. Apalagi di tengah suasana Covid-19, corona tidak boleh membuat manusia larut dalam kesedihan dan kecemasan.

“Selama masih diberi kemampuan, kenapa tidak untuk merayakan kebahagiaan,” ucapnya.  

Lebaran baginya adalah momen untuk merayakan kebahagiaan sekaligus rasa syukur atas nikmat Tuhan. Demikian pula, Idul fitri yang juga merupakan bagian dari syiar Islam, akan terasa hampa tanpa kebahagiaan.

Ekspresi rasa syukur Kindo Al itu, tentu saja menarik untuk ditelaah lebih jauh. Jika selama berpuasa kita mampu menahan nafsu syahwat dan keinginan perut kita, kenapa kita tidak mampu melawan corona dengan rasa optimis itu.

Lewat penyataannya itu, secara tidak langsung, Kindo Al mengisyaratkan bahwa dengan bersyukur, selain memperkuat keimanan, juga menguatkan imun tubuh kita. Demikian pula, dengan berpuasa, kita tidak hanya menguatkan iman, tapi juga sistem ketahanan tubuh. Shaumu Tasihhu (berpuasalah agar kamu sehat) kata Nabi.   

Setelah sebulan kita berjuang melawan hawa hawa nafsu, tibalah saatnya kita bertakbir, memuji Tuhan dengan riang gembira. Jika takbir tersebut adalah simbol kemenangan, maka sejatinya pula, ia mampu diterjemahkan sebagai sprit perlawanan terhadap corona. Apalagi lebaran kali ini hadir disaat wabah corona masih menanjak kuat di bangsa.

Meski ia hadir dengan segala ancaman dan risiko, namun kita tak perlu terlalu risau akan hal itu. Apalagi larut dalam kesedihan, hingga membuat kita kehilangan harapan hidup, sebab harapan hidup (optimisme) adalah kekuatan dan sekaligus modal kehidupan kita.

Bagi mereka yang mengaku beragama, tentu optimisme bukanlah perkara baru, sebab salah satu tujuan agama hadir adalah untuk menguatkan rasa optimisme dalam diri setiap manusia. Bahkan jauh sebelum Tuhan meminta hamba-Nya untuk mempasrahkan diri kepada-Nya, terlebih dahulu Tuhan meminta hamba-Nya berikhtiar.

Sementara kita tahu, kekuatan Ikhtiar adalah optimisme. Dengannya, minimal kita bisa berbahagia, meski berada di tengah kesulitan hidup akibat pandemi corona ini. Singkatnya, beragama tanpa rasa optimisme, sama halnya beragama tanpa iman.

Selamat Menyambut Hari Kemenangan, 1 Syawal 1441 Hijriah, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Penulis: Suaib A. Prawono

Presidium Gusdurian Sulawesi