nalar

Bermawas Diri di Tegah Bahaya Covid-19

Bermawas Diri di Tegah Bahaya Covid-19

Penyebaran virus corona tampak membuat pemerintah kelabakan. Dampak pandemi global ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, bertambahnya angka kematian penderita, dan pertumbuhan ekonomi, tapi juga tingkat penularannya yang sulit dikontrol, ditambah minimnya kesadaran sebagian masyarakat untuk mematuhi himbauan pemerintah. Salah satunya adalah menghindari kerumunan massal.

Meski pemerintah telah berkali-kali menghimbau agar warga tidak melakukan aktivitas di tempat umum. Namun oleh beberapa kalangan, imbauan tersebut dianggap bagai angin lalu. Perilaku dan sikap seperti ini tentu saja berbahaya, sebab penularan virus covid-19 ini bisa meluas secara massif. Sehingga membuat pemerintah dan tenaga medis kesulitan menangani pasien.

Baca juga: Minimnya Kesadaran, Penyebab Covid-19 Kian Meluas

Penerapan social distancing (jarak sosial) tampaknya belum disadari betul oleh sebagian warga. Sehingga aparat keamanan di Makassar terpaksa harus bertindak tegas, membubarkan warga yang sedang berkerumun di warung kopi guna menghindari penyebaran covid-19 pada Senin malam, 23 Maret 2020.   

Upaya tersebut selain sebagai wujud penerapan social distancing, langkah persuasif ini juga adalah upaya untuk mengetuk kesadaran masyarakat agar menyayangi diri dan keluarga, mengingat penyebaran virus mematikan ini tidak mengenal jenis kelamin, status sosial dan usia.

Minimnya kesadaran boleh jadi disebabkan karena istilah social distancing tidak terlalu familiar di telinga masyarakat, atau mungkin tidak mudah dimengerti oleh sebahagian besar masyarakat. Sehingga penting untuk menggunakan istilah yang lebih tepat atau membumi di tegah darurat penyebaran Covid-19 ini.  

Mengharap kesadaran masyarakat akan bahaya covid-19 dengan menggunakan istilah-istilah yang rumit, tentu saja akan membuahkan hasil yang minim. Apalagi kesadaran kerap hadir terlambat. Umumnya kesadaran hadir ketika semuanya sudah terjadi, atau menimpa diri dan keluarga kita.

Padahal esensi kesadaran sebenarnya tidaklah harus menunggu sesuatu itu terjadi, melainkan ketika seseorang mampu memahami dan membaca situasi dan kondisi sosial yang berbahaya, jauh sebelum sesuatu itu terjadi. Sehingga dengan demikian, ia bisa melakukan antisipasi dini. Singkatnya, orang sadar adalah orang mawas diri. 

Mawas diri mengajarkan manusia untuk peduli terhadap kehidupan sosial dengan berangkat pada pengalaman diri sendiri serta mampu berlaku adil dengan cara menyelamatkan diri  dan orang lain.