nalar

Covid-19 Berhasil Menembus Pertahanan Buton

Covid-19 Berhasil Menembus Pertahanan Buton

Keterangan Gambar : Cendraman

Corona tak ubahnya seperti angin, tak terlihat, namun dapat dirasakan kehadirannya. Pun demikian, corona seperti hantu, tak dapat dilihat dengan mata telanjang dan tentu saja menakutkan.

 

Baca juga: Dari 98 Kasus Postif Covid-19 di Sulbar, 71 Orang Dinyatakan Sembuh

Ia dapat menempel di benda-benda yang digunakan sehari-hari, seperti jam tangan, uang, dan sebagainya. Bahkan telapak tangan boleh dibilang menjadi awal perjumpaan corona dengan telapak tangan lainnya.

 

Siapa sangka, corona dapat dicegah dengan menutup segala akses keluar-masuk kendaraan antar kota. Jalur perbatasan disediakan posko penjagaan ketat corona. Tapi corona tak mengenal posko penjagaan, tak peduli TNI-Polri yang berjaga di perbatasan, tak kenal dengan segala peralatan medis yang disiapkan.

 

Sekali corona menempel, maka tinggal menunggu waktu, corona akan berpesta di tubuh inangnya.

Corona memang harus diwaspadai, tidak hanya sekadar mengikuti himbauan atau selebaran Kemenkes, tapi juga kesadaran bahwa corona adalah virus menular dan mematikan. Sehingga, pencegahan dini harus dilakukan.

 

Meski Corona tidak bertahan lama di lingkungan kita. Sebab, kita tidak mudah mendeteksi corona di ruang terbuka apalagi tertutup. Namun, bukan berarti corona tidak dapat dicegah atau bahkan ditaklukan oleh manusia yang berakal budi.

 

Bagaimana mungkin makhluk tak berakal ini melulantahkan perikehidupan manusia? Kalau corona berhasil menginvasi kehidupan manusia, berarti ada yang tidak beres dalam penggunaan organ tubuh manusia, bernama otak ini.

 

Bukankah Tuhan jelas-jelas menganugerahkan otak yang berisi akal sebagai bagian dari alat untuk menyelesaikan persoalan perikehidupan manusia? Nah, apa yang terjadi jika ternyata manusia sendiri yang tak mampu menggunakan anugerah Tuhan itu? Benar, yang ada hanya kehancuran.

 

Kasus Covid-19

Beberapa hari lalu, warga Buton sempat heboh dan kaget dengan adanya informasi dua orang positif Covid-19, pada Jumat 5 Juni 2020 pukul 17.00. Dari dua orang positif covid-19 itu, satu diantaranya dinyatakan meninggal dunia.

 

Awalnya, saya tidak terlalu yakin dengan informasi itu, sebab dua orang yang dinyatakan positif Covid-19 itu, tidak punya riwayat perjalanan ke daerah yang terjangkit Covid-19, dan tiba-tiba saja hasil laboratorium menyatakan positif.

 

Anehnya lagi, tak ada kabar soal prosesi pemakaman, sesuai aturan secara protokol kesehatan, atau minimal dokumentasi prosesi pemakamannya. Atau mungkin boleh jadi ada pertimbangan lain, setelah banyaknya kasus penolakan mayat Covid-19 sehingga ada larangan untuk mempublikasikannya.

 

Terlepas dari dugaan yang tidak jelas itu, Pemerintah Kabupatenlah yang harus bertanggung jawab penuh dalam penanganan Covid-19 di Buton. Keselamatan bersama adalah yang utama.

 

Penulis mencoba keluar dari analisis yang tidak jelas soal dua positif itu, karena Jubir Covid-19 Buton pun tidak mengetahui klusternya apa. Intinya, corona bak hantu yang menghantui siapa saja tanpa perlu kluster-kluster sebab corona mungkin tidak naik kapal atau pesawat.

 

Di Buton, orang positif corona tak harus lewat kapal atau pesawat, corona tak punya kluster. Corona begitu dekat. Tanggal 18 Juni 2020 pukul 17.00, data perkembangan Covid-19 Provinsi Sulawesi Tenggara, khususnya di Buton, menunjukkan OTG = 54; ODP = 4; PDP = 1; Positif = 35.

 

Kalau dilihat dari data ini, tentu psikologi kita semakin terganggu. Sedikit batuk, dicurigai corona, pun demikian dengan flu biasa, bias dicurigai corona. Data tersebut di atas, bukan lagi bom waktu, memang sudah waktunya meledak akibat penyalahgunaan organ yang paling tinggi posisinya, yang paling terlindungi tempatnya, otak yang berakal.

 

Anggaran Covid-19

Anda bisa bayangkan, anggaran Pemkab Buton untuk penanganan Covid-19 Rp. 33,3 Miliar belum mampu menangkal corona. Anggaran sebesar itu tak mampu menahan corona. Sepertinya corona sedang menertawakan ulah manusia yang menghabiskan banyak anggaran hanya untuk seonggok corona.

 

Anggaran senilai Rp. 33,3 Miliar dengan rincian Rp. 20,7 Miliar untuk penanganan dan pencegahan, Rp. 7,4 miliar untuk Jaringan Pengaman Sosial, Rp. 5,5 Miliar untuk penanganan dampak ekonomi.

Mari kita ambil yang Rp. 20,7 Milliar saja. Bukankah itu cukup untuk mencegah Corona pada saat sebelum tanggal 5 Juni yang lalu?

 

Pemkab seolah tak serius menangani Corona ini. APD tak lengkap, tak memiliki stock, tim medis kadang mendapat ‘semprotan’ pimpinan. Yang mana pimpinan jua yang tak mampu melindungi pasukannya.

 

Akibatnya, Corona menembus pertahanan yang paling krusial dalam dunia Corona, siapa lagi kalau bukan Tim Medis. Tim Medis sudah terpapar (27 positif), maka Rp. 20,7 Milliar itu, mau dikemanakan? bagaimana pelayanan terhadap mereka nantinya?

 

Meski otak berakal sudah digunakan tetapi tanpa di pandu oleh qalbu, apalah artinya seonggok manusia. Anggaran Covid-19 dihitung dengan akal yang sehat, namun belum tentu dengan qalbu yang bersih.

 

Corona suka bersemayam di tempat kotor, tapi pada qalbu yang bersih corona tak mampu menembusnya sekalipun bersama presiden corona. Penulis percaya, para Tim Medis garda terdepan kita. Namun, garda akan patah, manakala tak ditopang oleh kekuatan kepemimpinan, sains, dan upaya kolektif masyarakat dalam mencegah corona.

 

Penulis: Cendraman

Ketua GP Ansor Buton