Nasional

Covid-19 Jangan Dianggap Remeh, Meski Kecil, Namun Bisa Menggemparkan Dunia

Covid-19 Jangan Dianggap Remeh, Meski Kecil, Namun Bisa Menggemparkan Dunia

Seputarsulawesi.com, Bantaeng- Penyebaran Corona atau Covid-19 tidak bisa dianggap remeh, meski virus ini terbilang kecil, namun mampu menggemparkan dunia. Buktinya, virus tersebut telah menyebar di 166 negara.

Dampak kemajuan globalisasi yang memudahkan perpindahan manusia atau penduduk dari satu tempat ke tempat lain, tidak bisa dimungkiri menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, penularan Covid-19 ini juga sangat cepat.

Baca juga: Kunci Sukses Vietnam Tangani Covid-19

Berdasarkan riset terakhir, orang yang berada di ruangan kecil hanya butuh dua jam untuk bisa tertular virus corona. Virus corona bisa menular dengan mudah karena punya daya infeksi tinggi. 

Menurut Koordinator Jaringan GUSDURian Indonesia, Alissa Wahid, meski tidak semua virus bisa masuk ke tubuh manusia. Namun dengan novel corona virus 19 ini daya infeksinya sangat tinggi.

 "Virus corona 2019 ini bisa menginveksi manusia dan menimbulkan disease (coronavirus disease)," jelasnya saat menjadi pemantik diskusi online GUSDURian bertema "Bijak Melawan Corona" Rabu, 18 Maret 2020 lalu.

Alissa mengatakan, seseorang bisa tertular novel corona virus, tapi tidak sampai disease. Ia pun mencontohkan, si A, bisa ketularan virus, tapi yang bersangkutan tidak sakit, makanya tidak disebut sebagai covid. Tapi ada orang yang terinveksi corona kemudian sakit dan punya gejalanya, maka disebut covid-19.

"Itu situasinya si virus ini," jelasnya.

Lebih lanjut, Alissa menjelaskan, virus influenza dan sars, semuanya jenis corona virus, namun yang sekarang ini jenis ketujuh. Corona ketujuh ini sifatnya masih baru, belum ada vaksinnya sampai sekarang.

Adapun rumor yang berkembang, yang mengatakan bahwa virus ini adalah buatan Amerika, Rusia, Cina serta rumor terbaru di WhatsApp grup menyebutkan bahwa  virus tersebut dilepas oleh Bill Gates.

Menanggapi hal tersebut, Alissa lebih percaya bahwa corona virus ini lebih mirip wabah 1918 atau flu Spanyol. Menurutnya, flu Spanyol waktu itu, selain mematikan, penyebarannya juga mengglobal.

Dikabarkan 10% orang meninggal dunia, termasuk di Indonesia. Katanya, wabah itu sekaligus menjadi pijakan perlawanan para petani di Banten saat itu.

"Saya lebih meyakini bahwa corona virus ini mirip seperti Spanish flu. Di Indonesia, flu Spanyol tahun 1918 sampai 1919 sempat memakan korban dua juta orang pada saat itu," jelasnya.

Alissah mengakui, Covid-19 ini sangat mudah menular, bahkan lewat ludah sekalipun. Menurutnya, ludah penderita corona yang muncrat dan mengenai benda, seperti  hanphone misalnya, virusnya bisa bertahan atau hidup selama 72 jam.

Penelitian terbaru dari WHO menyebutkan, virus corona bisa menyebar di udara. Makanya itu, penularannya sangat mudah terjadi dalam ruangan kecil bersama penderita. Meski tidak berhadap-hadapan, karena ada indikasi virusnya hidup di udara.

“Makanya kita tidak boleh pegang hidung, pegang mata dan pegang mulut, tidak boleh,” jelas putri sulung KH. Abdurrahaman Wahid ini.

Menurut Alissa, meski virus corona atau covid-19 ini tidak berbahaya bagi mereka yang punya daya tahan tubuh yang kuat, namun bisa menular ke orang lain, khususnya bagi mereka yang punya daya tahan tubuhnya tidak terlalu kuat. Apalagi jika yang bersangkutan punya riwayat penyakit, seperti hepatitis B.

Sementara diketahui, hipatitis B tidak sama dengan hepatitis A yang tergolong ringan. Hepatitis B virusnya masih ada dan bahaya jika pengidapnya terlalu kelelahan. Virusnya bisa menguat dan merusak hati.

Mereka yang punya riwayat penyakit seperti ini, rentang terkena corona virus, disebabkan dua hal;  Pertama, karena daya tubuhnya lemah, maka virus corona langsung terjun ke paru-paru serta membuat bakteri numoria bebas merdeka merusak paru-paru.

Kedua, mereka yang punya riwayat penyakit bisa kumat, sehingga corona bisa merusak daya tubuhnya. Misalnya penderita riwayat asma. Orang seperti ini, jika kena corona virus problemnya bisa dari asmanya tersebut. Dia akan terserang numenia berat serta penyakit lamanya bisa kambuh.

Makanya, banyak orang menduga angka kematian di Indonesia itu sebetulnya salah hitung karena ada orang-orang yang suspect corona tetapi dinyatakan negatif, namun meninggalnya karena penyakit yang lain.

“Itu yang dikhawatirkan orang yang bergerak di bidang kesehatan,” kata Alissa Wahid.

Sekadar diketahui, sejauh ini, jumlah kasus corona di Indonesia mencapai 450 terkonfirmasi, 392 dalam perawatan, 20 dinyatakan sembuh, dan 38 orang meninggal dunia.

Infomasi yang dilansir dari kawalcovid19.com, tertanggal 22 Maret 2020 itu, memperlihatkan bahwasanya jumlah pengidap Covid-19 terus bertambah, demikian pula dengan jumlah kematian terus mengalami peningkatan.