Sulsel

Dialog Antar Umat Beragama di Sulsel Perlu Digalakkan

Dialog Antar Umat Beragama di Sulsel Perlu Digalakkan

Seputarsulawesi.com, Makassar- Dalam sambutannya di acara dialog Publik, Andro, Ketua Badan Eksekutif Persekutuan Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Timur (STT INTIM) mengatakan, diskusi yang Bertemakan "Peran Agama Bagi Kerukunan Bangsa," ini perlu untuk terus digalakkan ditegah maraknya gerakan intoleransi di bangsa ini. Pasalnya jika gerakan intoleransi itu dibiarkan, maka itu tidak hanya membuat umat beragama semakin khawatir, tapi juga akan meredupkan masa depan kerukunan umat beragama di bangsa ini.
 
"Berbagai macam peristiwa kekerasan yang mengatasnamakan agama telah terjadi dibangsa ini, dan tentunya kita patut prihatin atas masalah ini. Olehnya itu, dialog ini menjadi penting untuk senantiasa kita galakkan, agar hubungan baik antar pemeluk agama bisa semakin membaik," ungkapnya di depan ratusan peserta seminar, di ruang Kapel Kebangkitan STT INTIM, Sabtu (29/11).
 
Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa tujuan dilaksanakannya seminar itu agar umat beragama mampu melihat dan memaknai perbedaan yang ada pada setiap  agama di bangsa ini. "Kita harus sadar bahwa kita tidak hidup sendiri di dunia ini, disekitar kita ada agama orang lain yang berbeda dengan kita, mereka bukan musuh kita, tapi mereka adalah saudara kita," tegas Andro yang disambut tepuk tangan meriah peserta seminar.

Sementara itu, Christina Josefien Hutubessy, M.Si, yang menjadi pembicara pertama dalam dialog tersebut mengatakan, keberadaan agama Kristen di bangsa ini kerap distigma sebagai agama kolonial, karena ia hadir di bawa oleh bangsa kolonial. Sehingga tidak mengherankan jika Islam lebih membumi di Nusantara ketimbang Kristen. "Meski disatu sisi hal itu bisa dibenarkan, namun kita juga tidak bisa menerima jika ada orang phobia terhadap agama Kristen karena stigma agama kolonial itu. Sebab dalam ajaran Kristen juga terdapat ajaran kedamaian, kasih sayang, dan keadilan," ungkapnya.

Selain itu, ia juga menyampaikan beberapa fakta tentang diskiriminasi yang mengatasnamakan agama yang kerap kali muncul, terutama saat diberlakukannya perda syariat dibeberapa wilayah di Sulsel. Ia pun mencontohkan kasus yang dialami oleh salah seorang warga Kristen di Kabupaten Maros, ia terpaksa harus mengenakan busana muslim saat akan mengurus urusan administrasi di kantor pemerintahan, sebab ia khawatir jangan sampai pemerintah setempat tidak melayaninya.

Tak hanya itu, dalam dialog tersebut, Chiristin juga memaparkan kasus kekerasan yang pernah dialami oleh Jamaah Ahmadiyah Makassar pada tahun 2011 lalu, dimana saat itu markas mereka  diserang oleh kelompok-kelompok intoleran, dan ironisnya aparat keamanan waktu itu tidak bisa berbuat apa-apa di lokasi kejadian, dan seolah membiarkan hal itu terjadi. Olehnya itu, menurutnya seminar yang digelar oleh BEM STT INTIM itu adalah upaya perjumpaan antar berbagai kelompok lintas iman untuk meneguhkan kebersamaan dalam mencipatakan damai dan keselamatan untuk semua kalangan.

"Keselamatan itu adalah perwujudan penghayatan iman, sehingga lahir istilah iman yang menyelamatkan. Olehnya itu, seminar ini saya memaknainya sebagai bentuk perjumpaan, sebagai upaya perwujudan iman kita guna menelorkan pesan-pesan damai untuk semua," terang aktivis OASE INTIM ini. (SAP)

Baca berita sebelumnya: http://seputarsulawesi.com/berita-forum-dialog-persekutuan-mahasiswa-stt-intim-makassar.html

Iklan Tengah