Nasional

Gelar Webinar, Alumni IVLP Bahas Perbandingan Sistem Pemilu Amerika dan Indonesia

Gelar Webinar, Alumni IVLP Bahas Perbandingan Sistem Pemilu Amerika dan Indonesia

Seputarsulawesi.com, Makassar- Sejumlah alumni Internasional Visitor Leadership Program (IVLP) yang konsen pada isu politik dan kepemiluan berkumpul dalam satu forum diskusi webinar Nasional, Minggu, 5 Juli 2020.  

Diskusi dalam rangka memperingati Independence Day atau hari kemerdekaan AS dari Inggris setelah Perang Revolusi ini bertemakan “Perbandingan Sistem Pemilu di Amerika Serikat dan Indonesia”.

Tema diskusi ini sengaja diketegahkan karena kedua negara ini, dalam waktu dekat akan menggelar pemilihan. Amerika Serikat akan melaksanakan pemilihan presiden dan Indonesia akan menggelar pemilihan serentak kepala daerah di 270 daerah.

Adapun yang menjadi pembicara dalam kegiatan ini adalah Juri Ardiantoro, Ketua Presidium JaDI Nasional, Ferry Kurnia Riskiansyah Direktur Netgrit IVLP 2012, Dahlian Umar,  Ketua Netfid  IVLP 2018 dan Rudiansyah Ketua KPU Kalimantan Timur IVLP 2020.

Publik Affairs Officer US  Consulate General Surabaya, Angie Mizuer menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan Webinar Nasional yang diinisiasi para  alumni IVLP ini. 

Anggi mengatakan, di hari kemerdekaan Amerika Serikat ini, alumni IVLP bisa berbagi pengalaman tentang sistem Pemilu di Amerika Serikat dan Indonesia. Sebab kedua negara ini memiliki nilai-nilai demokrasi yang sama yakni kebebasan beragama, kebebasan berbicara dan tanggung jawab sipil melalui pemilihan.

“Pemilihan ini sangat penting untuk demokrasi dalam menentukan pemimpin masa depan,“ kata Angie.

Angie juga menyampaikan, program IVLP adalah  jembatan kemitraan antara Amerika Serikat dan Indonesia yang bekerjasama dalam hal berbagi ilmu dan pengetahuan. IVLP  memiliki beberapa program yang dilaksanakan dengan mengundang para profesional dari berbagai bidang di berbagai negara.  

Lewat program IVLP, kata Anggie, Konsulat Amerika di Indonesia  mengundang warga Indonesia ke Amerika Serikat untuk bertukar pengalaman.

Sementara itu, Juri Ardiantoro, Ketua Presidium JaDI Nasional yang menjadi Keynote Speaker dalam kegiatan tersebut menyampaikan, tidak ada satu negara bisa mengklaim sistem pemilunya paling baik. Karena sistem pemilu dipengaruhi oleh kepentingan negara dan masyarakat masing-masing.

Menurutnya, faktor sejarah sangat kental mempengaruhi sistem pemilu di Amerika Serikat, baik pemilihan  Presiden, senat atau anggota parlemen. Sementara sistem Pemilu yang paling banyak  digunakan di dunia adalah sistem pemilu distrik pluralitas mayoritas dan sistem pemilu proporsional.

“Ada negara yang menyederhanakan sistem pemilu dan  ada juga negara yang mendesain begitu rumit yang berimplikasi pada sistem pemilu,“ jelas kata mantan Ketua KPU RI ini.

Kurnia Riskiansyah, dalam kegiatan tersebut menyampaikan, tata cara pemilihan di Amerika dan Indonesia berbeda. Sistem pemilu di Indonesia digelar secara langsung, warga negara yang bersyarat sebagai pemilih menggunakan hak pilih di TPS dan dikonversi menjadi kursi. Sementara sistem electoral college menjadi penentu pada pemilihan Presiden Amerika.

“Bisa jadi presiden yang kalah dalam populer vote tetapi menang dalam electoral vote. Situasi ini terjadi di Pemilu 2016 lalu, “ jelas Ferry.

Dahliah Umar menambahkan, sistem Pemilu di Amerika menyediakan dua opsi yang berbeda bagi pemilih saat memberikan suara di TPS, bisa menggunakan cara manual maupun elektronik tergantung kebijakan negara bagian.

“Uniknya penyelenggara juga memberikan fasilitas mencoblos lewat pos jika pemilih berhalangan hadir di TPS,” ujar Alumni  Alumni IVLP 2018 ini.

Keunikan lain, yang membedakan sistem pemilu di Indonesia dan Amerika disampaikan oleh Rudiansyah. Ia mengatakan, aparat keamanan di Amerika Serikat memiliki hak politik, sementara di Indonesia TNI/Polri itu tidak bersyarat sebagai pemilih dan tidak boleh mencoblos.

“Di Amerika aparat keamananan bisa menggunakan hak pilihnya,” katanya dalam kegiatan yang dipandu oleh Mardiana Rusli tersebut.