Sosok

Haedar Nashir; Tidak Ada Perkerjaan Mudah, yang Mudah Adalah Menggampangkan Urusan

Haedar Nashir; Tidak Ada Perkerjaan Mudah, yang Mudah Adalah Menggampangkan Urusan

Keterangan Gambar : Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Seputarsulawesi.com, Makassar- Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir beberkan pengalamannya menulis. Lewat ciutannya di akunTwitter, 25 April 2020, Haedar mengatakan, tidak ada perkerjaan yang mudah, demikian pula halnya dengan menulis. Bahkan mengobrol meski terlihat gampang, namun bagi sebagian orang terasa susah.

"Tidak ada perkerjaan yang mudah, yang mudah itu yang suka menggampangkan urusan" katanya via akun Twitter @HaedarNS.

Haedar mengatakan, menulis itu awalnya memang sulit. Namun karena sudah terbiasa, pekerjaan itu menjadi mudah. Bahkan sekarang, jika dirinya tidak menulis, terasa ada yang hilang.

Lebih lanjut, Haedar mengatakan, untuk menjadi orang yang terbiasa menulis, proses pergumulannya sangatlah panjang. Bahkan sekarang pun dirinya masih harus tetap belajar. Apalagi dewasa ini, banyak penulis produktif bermunculan dan tak jarang dilakoni oleh kalangan anak muda.

“Kegiatan menulis saya dimulai sejak mahasiswa. Awal merantau di Yogya,” jelasnya.

Haedar masih ingat persis saat pertamakali indekos di Kota Gudeg pada hari Selasa 9 September 1979 silam. Sambil kuliah, ia mulai belajar menulis, dan itu diakuinya tidak mudah.

Awal mula belajar menulis, ia terlebih dahulu memulainya dengan menulis tangan, setelah dianggap cukup barulah diketik. Karena saat itu, ia tidak punya mesin ketik, maka dirinya harus datang ke kantor PW Ikatan Pelajar Mauhammadiyah di Jalan Kauman Yogyakarta. Di kantor inilah, ia mengetik semua tulisan tangannya hingga rampung.

Tidak berselang lama, ia pun bisa membeli mesin ketik dengan menyisihkan sebagian uang beasiswanya. Ia mengaku sangat senang, tak ubahnya seperti petani yang dapat cangkul dari Pak Lurah.

“Mesin tik bersejarah itu sekarang saya simpan di lemari perpustakaan sebagai kenangan terindah,” katanya.

Menjadi penulis harus gigih. Katanya, Satu dua sampai berkali-kali gagal jadi tulisan utuh, tapi jadi juga. Dimulai menulis opini ringan-ringan untuk rubrik mahasiswa di media massa Yogya dan Ibukota.

“Wah awalnya sering ditolak. Tapi terus mencoba, berkali-kali, berganti tema. Akhirnya satu dua mulai ada yang dimuat,” jelasnya.

Saat tulisannya dimuat, ia mengaku girang, seperti Neil Amstrong yang sukses turun dari Bulan. Apalagi saat itu, rekan-rekan mahasiswa lain tahu dan memberi selamat.

“Bangga dirilah, tapi tidak congkak,” bebernya.

Sejak itu, ia pun mengaku ketagihan menulis. Apalagi honor menulis waktu itu, bisa menambah uang saku, sehingga ia bisa lebih mandiri.

Meski mendapat beasiswa plus honor menulis, Haedar mengaku tetap harus berjuang keras untuk sukses kuliah. Pepatah yang mengatakan, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian dijadikan sebagai motivasi kesuksesan.

Iklan Tengah