nalar

Ihwal Ahli Ibadah yang Amalnya Berujung Kesia-siaan. Mau Tahu Siapa Mereka, Yuk kita Simak Ulasannya

Ihwal Ahli Ibadah yang Amalnya Berujung Kesia-siaan. Mau Tahu Siapa Mereka, Yuk kita Simak Ulasannya

Keterangan Gambar : NU Online

Setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah Ramadan, berburu dan memperbanyak amal ibadah di dalamnya, tibalah saatnya kita merayakan hari kemenangan, 1 Syawal 1441 H.

Lebaran yang ditandai dengan gema takbir, tahmid dan tahlil itu adalah simbol dan sekaligus ekspresi kebahagiaan karena kita telah berhasil menaklukkan hawa nafsu kita di bulan Ramadan.

Baca juga: Salat Idul Fitri di Rumah, Bisa Dilakukan Berjamaah atau Sendirian

Kebahagiaan itu hadir karena pada yang sama, kita dinyatakan kembali ke fitra (kesucian) yang tiada lain adalah imbalan dari laku perjuangan kita melawan hawa nafsu, mendisiplinkan diri, serta rela untuk tidak tidur semalam suntuk hanya untuk menghidupkan ibadah-ibadah Ramadan.

Pertanyaanya kemudian, apa yang menjadi tujuan dari semua itu? Tentu saja bukan semata untuk memperbanyak amal ibadah, sebab tidak ada jaminan amal ibadah yang banyak bisa mengantarkan seseorang atau ahli ibadah dekat ke Tuhan, serta mendapatkan ridhah-Nya. 

Jadi jelas, bahwasanya tujuan kita beribadah, selain untuk mendekatkan diri kepada-Nya, juga untuk mencapai keridhaan-Nya. Terkait hal ini, ada ulasan menarik disampaikan oleh Muhammad Zaki Mubarak via akun twetternya. 

Ulasannya itu mengetengahkan kisah tentang dua orang manusia yang berbeda, baik secara perilaku maupun karakter. Satu ahli ibadah, tapi pelit, satunya lagi adalah pendosa, tapi pemurah, suka menolong dan membantu sesama.  Pertanyaanya kemudian, manakah dari dua orang ini yang lebih disukai oleh iblis?

Imam Yahya bin Muaz Rahimahumullah, sebagaimana yang dikutip Muhammad Zaki mengatakan, ternyata yang lebih disukai Iblis adalah ahli ibadah yang pelit, bukan manusia pendosa, tapi murah hati itu. Kenapa demikian? karena sifat pelitnya itu mendatangkan murka Allah Swt.

Menurut Zaki, bagaimanapun banyaknya amal ibadah seseorang, jika bertemu dengan kemurkaan Allah Swat maka amal yang dilakukannya itu tidak akan berarti apa-apa. Sedangkan sifat pemurah, tidak hanya mendatangkan rahmat Allah, tapi juga kasih sayang-Nya. 

Makanya itu, sebesar apapun dosa seseorang jika betemu dengan rahmat dan kasih sayang Allah, maka gampang bagi Allah untuk memberi hidayah, atau paling tidak mengampuni dosa-dosanya.

"Semoga hujan Ramadhan yang telah mengguyur hati kita selama sebulan penuh, tak sia-sia, karena hari ini, mulai tumbuh subur lagi sifat-sifat mulia dari hati kita" tulis Zaki via akun @zaki_elqattamy tweetnya tersebut.


Ulasan pengampuh kitab kuning online ini cukup menarik. Ia secara tidak langsung menyampaikan kepada kita bahwasanya  Islam itu adalah agama pemurah dan penyayang terhadap sesama. 

Faktanya pun sangat jelas, hampir semua ibadah yang kita kerjakan erat kaitannya dengan urusan sosial, tak terkecuali ibadah puasa yang baru saja berlalu dalam hidup kita.

Zakat fitra yang dikeluarkan di bulan suci Ramadan, tidak hanya semata untuk mensucikan hati dan pikiran kita, tapi juga sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap sesama. Ibadah sosial yang menjadi anjuran wajib bagi kaum yang berpunya itu sekaligus menjadi bukti betapa Islam adalah agama pemurah.

Adapun yang mendasari zakat fitra ini agar jangan sampai ada kaum fakir dan miskin kelaparan di hari lebaran. Menurut Ahmad Zainul Hamdi, sebagaimana yang dikutip dari islami.co menyatakan, muara dari ibadah puasa adalah kepekaan sosial.

Zakat yang dikeluarkan di bulan Ramadan adalah wujud empat kepada mereka yang tertimpa kemalangan. Puasa tidak akan bermakna, jika pada akhirnya kita tidak sanggup melahirkan pribadi penuh cinta terhadap sesama.