nalar

Ihwal Perayaan Ulang Tahun dan Fenomena Anak Biologis

Ihwal Perayaan Ulang Tahun dan Fenomena Anak Biologis

Keterangan Gambar : nomis.id

Penulis tidak mengetahui secara pasti sejak kapan tradisi perayaan ulang tahun di negara ini bermula. Namun yang pasti, tradisi ulang tahun ini, beberapa tahun belakangan dipersoalkan, bahkan tak jarang dihujat oleh kelompok-kelompok tertentu, yang notabene sebagian besar anak-anak muda yang baru belajar agama.

Umumnya mereka berpandangan bahwa peringatan ulang tahun adalah tradisi non Islam yang datang dari negeri kafir (Barat). Tradisi tersebut tidak pernah dipraktekkan oleh Rasulullah Saw semasa hidupnya. Paham seperti ini tidak hanya menguat di jejaring media sosial, tapi juga telah merangsek ke dalam lingkup rumah tangga.

Baca juga: Berlebaran di Tengah Wabah Covid-19

Terkait hal ini, ada cerita menarik teman penulis soal perayaan ulang tahun. Suatu ketika, dirinya merayakan usianya yang ke-41 tahun, tiba-tiba anaknya yang masih berusia Sekolah Dasar datang menghampiri, menyampaikan bahwa apa yang telah diperbuat ayahnya itu telah melanggar hukum Islam dan sesat karena mempraktekkan budaya barat.

Vonis sesat itu diucapkan begitu saja tanpa harus mencari tahu alasan orang tuanya merayakan ulang tahun. Padahal kalau mau ditelisik lebih jauh, orang tua anak tersebut bukanlah orang awam dalam hal masalah agama (Islam). Pemahaman agama orang tuanya boleh dibilang cukup mumpuni. Bahkan di pesantren dulu, ayahnya termasuk salah seorang santri yang terkenal cerdas.  

Ia tidak hanya mampu menghafal di luar kepala isi kitab Al-Arba’in,  kumpulan 40 hadist-hadist pilihan  karya Imam Nawawi, tapi juga mampu menguasai Ushulul Piqih, serta khatam kitab Bidayatul Mujtahid  karya Ibnu Rusyid. Penulis tahu persis kehebatan ayah anak tersebut, sebab di pesantren dulu, penulis termasuk orang pernah berguru ilmu nahwu-shorof serta dasar-dasar agama Islam ke beliau. Kebetulan beliau dua tahun lebih senior dari penulis.

Saat ditanya soal sikap dan pandangan anaknya tersebut, sang Ayah tidak langsung menjawab, justru ia menceritakan pengalaman kami berdua saat masih eksis berdiskusi di rumah-rumah panggung saat kami masih berstatus sebagai santri. "Ib.. masih ingat waktu kita diskusi soal syair Khalil Ghibran, yang bunyinya “anakmu bukan anakmu”?,” tanyanya ke saya.

Saya pun mengangguk, sebab syair itu cukup familiar dan banyak menarik perhatian santri-santri waktu itu. Ungkapan Khalil Ghibran itu, katanya yang tengah melanda kehidupan rumah tangganya. Tak lama kemudian, ia pun kembali menjelaskan maknanya.

Ia mengatakan, suatu saat nanti kita akan punya anak atau generasi, tapi ia hanya sekadar anak biologis, bukan anak ideologis, karena mereka telah dididik oleh pasar, lingkungan, dan pola pemahaman agama yang keras dan kaku.  

Makanya itu, ia pun mengaku tidak heran, saat mendengar cerita ada seorang anak tega mengkafirkan orang tuanya lantaran masih asyik duduk di depan TV, sementara azan magrib sedang berkumandang.  Demikian pula, cerita seorang siswa SMP yang menuding orang tuanya masuk neraka gegara tidak mengenakan jilbab. 

Cara pandang keagamaan anak-anak dewasa ini cenderung instan dan hitam putih. Sehingga tidak mengherankan jika mereka cenderung tidak bijak melihat perbedaan. Jangankan bijak, menyikapi-nya pun kadang menggunakan nalar kekerasan. “Kata-kata kafir, musyrik, sesat serta seabrek istilah lainnya yang menyakitkan hati kadang terlontar dari mulut-mulut penganut Islam instan ini," ungkapnya.  

Alasan Merayakan

Mendengar penjelasan kawan yang sekaligus senior saya itu, saya seolah kembali ke masa lalu, tepatnya saat masih berstatus sebagai santri. Gagasan-gagasannya tidak ada yang berubah, masih seperti dulu, terbuka, moderat dan kritis.

Untuk mengetahui lebih jauh soal pemahaman dan cara pandangnya soal perayaan ulang tahun, saya pun menanyakan alasan beliau merayakannya. Ia mengatakan, selain karena keinginan istrinya, juga karena dorongan rasa syukur atas usia yang telah diberikan Tuhan kepadanya.

Perayaannya ulang tahunnya tidak terkesan mewah, hanya sebatas acara syukuran dengan mengundang tetangga dan anak yatim sambil makan bersama. Soal perayaan ulang tahun itu, ia merujuk ke hadist Nabi yang mengatakan, tidak dikatakan bersyukur kepada Allah SWT, siapa yang tidak tahu berterima kasih kepada sesama manusia.  La  yaskuru laha mal laa yasykuru naasa,” demikian bunyi hadist tersebut.

“Tradisi masyarakat kita-kan suka kumpul-kumpul sambil makan-makan, ya.. kenapa tidak sekalian dijadikan syiar agama,” jelasnya.

Dirinya sengaja merayakan ulang tahun di rumah agar silaturrahmi dengan tetangga dan anak yatim tetap terjaga, dan itu dianggap sebagai bahagian dari ekspresi keberagamaan. Menurutnya, meski nabi tidak pernah merayakan ulang tahun, tapi bukan berarti praktek seperti ini harus dihukumi haram.

Kaidah ushul mengatakan Wal aslu fil aadaatinal ibaahati hatta yajii u sooriful ibahah. Artinya, hukum asal kebiasaan (adat istiadat) adalah boleh, sampai ada dalil yang melarangnya.

“Oke lah, anggap saja perayaan ulang tahun ini tidak ada kaitannya dengan agama, tapi murni urusan dunia. Tidakkah Nabi pernah berucap antum a’lamu biumuri dunyaakum (engkau lebih mengetahui urusan duniamu),” katanya lagi.

Atas hadist itulah, perayaan ulang tahunnya itu sekaligus dirangkaikan dengan upaya untuk menggembirakan orang lain, termasuk anak yatim. Sebab menurutnya, menyantuni dan menyayangi anak yatim adalah anjuran Nabi. Olehnya itu, perayaan ulang tahun baginya, bukan semata urusan pribadi, tapi erat kaitannya dengan kemanusiaan (hablum minannas).  

“Kamu bisa baca Qs. Al-Imran 112 lengkap dengan pandangan atau tafsir ulama tentang ayat ini,” katanya kepadaku.  

Lebih lanjut, ia mengatakan, perayaan ulang tahun tidak mesti buru-buru distigma sesat dengan alasan produk orang-orang kafir, sebab jika demikian alasannya, kenapa kita tidak sekalian membuang perangkat elektronik kita, seperti handphone, android, serta berhenti mengenakan baju koko atau menerima gaji berdasarkan penanggalan Masehi, bukankah semua itu produk dari luar Islam?

 “Ya.. anak saya memang belum terlalu paham soal agama. Ia masih mengenal kulit-kulitnya. Suatu saat nanti, ia akan sadar bahwa tidak semudah itu menyesatkan orang-orang yang berbeda pandangan dengannya,” ucapnya.

Pendidikan

Teman penulis mengaku, dirinya tidak terlalu khawatir dengan pola pemahaman keagamaan anaknya itu, justru yang dikhawatirkan jika anak sulungnya itu berhenti belajar mendalami agama. Kepada penulis ia menegaskan, tidak ada gunanya dirinya sebagai alumni pesantren, jika tidak mampu meluruskan cara pandang keberagamaan anaknya itu.

Sejauh ini, dirinya baru sebatas memberi motivasi untuk belajar agama, belum sampai pada sikap arif sebagai orang berpengetahuan.  Ia mengatakan, jika motivasi belajar mengajarkan kepada kita bahwa semakin banyak orang belajar, maka kita akan semakin pintar, namun tidak demikian dalam pandangan  orang-orang arif.

Mereka berpandangan, dengan banyak belajar, kita akan semakin menemukan kelemahan dan ketidaktahuan kita.  Dalam pesan lain disebutkan, menelitilah (belajarlah) karena dengannya engkau akan mengetahui sesuatu, dan sekaligus menyadarkan-mu tentang ketidaktahuan.

Makanya itu, tidak mengherankan jika orang-orang arif lebih banyak diam dan tidak menyombongkan diri. Ia pun mengutip perkataan salah seorang ulama kharismatik Sulsel, Anre Gurutta Sanusi Baco, “órang pintar, diamnya lebih banyak daripada bicaranya. Sementara orang bodoh, bicaranya lebih banyak daripada diamnya”.

“Yang terpenting dilakukan saat ini adalah bagaimana mendidik anak-anak kita agar menjadi manusia-manusia arif, bijak dan dewasa dalam menyikapi perbedaan,” jelasnya.

Penulis: Suaib A. Prawono

(Pegiat Perdamaian di Sulawesi)