Sulsel

Irjen Pol Hamli; Radikalisme adalah Bibit Terorisme

Irjen Pol Hamli; Radikalisme adalah Bibit Terorisme

Seputarsulawesi.com, Makassar- Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia, Irjen Pol. Ir. Hamli mengatakan paham radikal sudah mulai menyasar kalangan civitas akademi kampus, tak terkecuali kalangan mahasiswa yang ditargetkan sebagai ujung tombak.

“Di Kampus, kelompok radikal mentargetkan mahasiswa sebagai ujung tombak utama,” jelas Irjen. Pol. Ir. Hamli saat menjadi pembicara dalam kegiatan  Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Struggle Of Economic Students Study Club (SOS SC) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muslim Indonesia (UMI), Rabu, 8 Juli 2020.

Baca juga: SOS SC UMI Gelar Webinar, Hadirkan Imam Besar Masjid Istiqlal Sebagai Pembicara

Hamli menyampaikan, Radikalisme adalah sikap yang mendambakan perubahan secara total, bersifat revolusioner dengan menjungkir balikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekeraan dan aksi-aksi yang ekstrem.

Radikalisme tidak hanya muncul karena faktor internal, seperti kepentingan politik dan juga broken home, tapi juga faktor eksternal dengan hadirnya ideologi transnasional yang belakangan banyak memberi pengaruhi ke masyarakat.

Selain itu, kata Hamli, kelompok radikal juga menyebar luaskan paham mereka disertai dengan janji-janji kebutuhan finansial dan propaganda politik. Hal itu dilakukan guna menjadi daya tarik khusus bagi para akademisi, terutama kalangan mahasiswa.

“Jangan mudah terpengaruh oleh paham-paham seperti itu, sebab radikalisme adalah bibit lahirnya terorisme,” tegas Hamli dalam kegiatan bertemakan “Peran Kampus dan Mahasiswa dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme" itu.

Senada dengan itu, Imam besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar menyampaikan, kelompok islam radikal adalah faham atau aliran yang berusaha melakukan perubahan dan pembaharuan dengan menempuh cara keras dan ekstrem, serta berupaya mengganti tatanan nilai yang ada sesuai dengan ideologi mereka.

Nasaruddin Umar menyampaikan, kelompok dengan ciri seperti ini sangat keras melakukan perlawanan dan penolakan terhadap sistem sebuah lembaga. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, mereka melakukan provokasi dan memperluas dukungan atau pengikut.  

Sementara dari segi faham keagamaan, mereka melakukan intervertasi dalil-dalil agama, bahkan berani memotong-motong ayat dan hadis guna menyesuiakan dengan kepentingan ideologi mereka.

Selain itu, dalam melakukan intervertasi terhadap teks-teks agama, mereka tidak peduli dan mencantumkan ababun nuzul ayat serta asbabul wurud hadis. Parahnya lagi, dengan corak pehaman seperti, faham yang bertentangan dengan kelompok mereka dianggap salah

“Ciri lain, kelompok ini juga melakukan dakwa ekslusif, mencari simpati di grass road serta berusaha  mengambil alih rumah ibadah,” jelas Prof. Nasar di kegiatan Webinar tersebut.  

Dalam kesempatan yang sama, Pendiri Nasaruddin Umar Office juga membeberkan sumber pendanaan Kelompok Radikal Terorisme. Menurutnya, sumber pendanaan kelompok dibagi dua yaitu eksternal dan internal.

Eksternal yaitu jaringan internasional dan bantuan untuk atas nama Yayasan, sedangkan internal adalah iuran anggota, fae, usaha bisnis mandiri serta menghalalkan segala cara,” tutupnya.