nalar

Islam dan Budaya Mandar: dari Islamisasi ke Integrasi

Islam dan Budaya Mandar: dari Islamisasi ke Integrasi

Keterangan Gambar : Suardi Kaco, H

Diskursus Islam dan kebudayaan hingga saat ini masih tetap menarik untuk dikaji lebih dalam. Terutama berkaitan dengan relasi antara keduanya, yang masih kerap dipersoalkan dan diperdebatkan. Misalnya, apakah hubungan Islam dan kebudayaan bersifat dominatif-subodinatif atau justru relasinya saling membutuhkan (simbiosis mutualisme)?

Terlepas dari diskursus di atas. Islam dan kebudayaan merupakan dua entitas yang berbeda, yaitu Islam sebagai agama yang asalnya dari Tuhan, sementara kebudayaan sumbernya dari manusia. Namun, ketika Islam diturunkan ke bumi, maka ia berinteraksi dengan kebudayaan. Sehingga Islam yang sebelumnya suci, kemudian menjadi profan.

Baca juga: Balitbang Agama Makassar Teliti Moderasi Beragama di MAN 1 Bulukumba

Islam tentu tidak akan sempurna sebagai agama jika tidak menjadikan kebudayaan sebagai medium dalam mentransformasi pesan-pesan ketuhanan. Bisa dibayangkan, seandainya Tuhan tidak menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Alquran, maka boleh jadi manusia tidak akan tahu seperti apa petunjuk dari Tuhan.          

Karena itu, Islam dan kebudayaan punya hubungan yang sangat “intim”. Hal itu dapat dilihat pada daerah yang dalam sejarahnya mengalami proses panjang islamisasi. Misalnya, di Jawa ada banyak kebudayaan Islam yang kini menjadi identitas daerah tersebut. Sebut saja, Ranggon atau atap Masjid Demak, yang Gus Dur menyebutnya sebagai simbol akomodasi Islam dan budaya Jawa.   

Begitu halnya dengan kebudayaan Islam di Mandar. Terbentuknya kebudayaan Islam di Mandar tentu bermula ketika Islamisasi mulai terjadi di daerah ini. Dari proses islamisasi itulah kemudian terjadi integrasi atau akulturasi antara ajaran Islam dengan budaya lokal Mandar.   

Bermula dari Islamisasi

Islamisasi (bukan arabisasi) di Mandar mulai pada abad 17 M. Penyebar agama Islam pertama bernama Abdurrahim Kamaluddin, ulama utusan Kerajaan Gowa-Tallo. Daerah yang pertama kali dikunjungi adalah Kerajaan Balanipa. Dimana saat itu Kerajaan Balanipa di bawah kekuasaan Kanna I Pattang Daetta Tommuane, Mara’dia (Raja) ke empat Kerajaan Balanipa. 

Metode islamisasi Abdurrahim Kamaluddin, dalam teori islamisasi disebut sebagai pola politik-kekuasaan. Metode islamisasi seperti ini dianggap bagian dari strategi kultural para penganjur Islam agar proses Islamisasi berlangsung dengan cepat, tanpa ketegangan dan perlawanan. Strategi kultural ini diterapkan berdasarkan peta relasi kekuasaan antara raja dan rakyat yang bersifat patronasi dan sentralistik.  

Karakteristik dakwah Abdurrahim Kamaluddin bercorak sufistik. Suatu tipologi dakwah yang dominan digunakan oleh para penyebar Islam periode awal di Nusantara. Sebagaimana yang dipraktekkan Wali Songo di Jawa dan tiga Dato’ di Bugis-Makassar.

Dakwah Islam yang ditempuh secara sufistik ini dinilai sangat memudahkan terjadinya proses integrasi atau akulturasi ajaran Islam dengan budaya lokal. Dan cenderung tidak menimbulkan perlawanan dan polarisasi antara keduanya. Islamisasi model sufistik pada dasarnya sama dengan pribumisasi Islam yang ditawarkan oleh Gus Dur.

Islamisasi model ini, dalam pandangan Khamami Zada, yakni islamisasi yang lebih mementingkan dialog dalam mekanisme proses kultural. Islam tidak diterima begitu saja tanpa melalui tawar menawar oleh budaya setempat. Di sinilah, Islam dan budaya ditempatkan dalam posisi yang sejajar untuk berdialog secara kreatif agar salah satunya tidak berada dalam posisi yang subordinat.   

Berujung pada Integrasi

Islamisasi di Mandar berlangsung cukup lama. Pengaruhnya hampir terjadi di semua struktur sosial dan kebudayaan di Mandar. Mulai dari kebudayaan elite Kerajaan sampai kebudayaan rakyat. Dari kebudayaan pesisir hingga kebudayaan pedalaman (pegunungan). Mulai dari aspek sistem ketatanegaraan, sastra, seni, upacara siklus hidup, sampai pada norma dan etika sosial masyarakat Mandar. Semua itu tidak terelakkan dari pengaruh Islamisasi yang terjadi.

Pertama, integrasi di bidang sistem ketatanegaraan. Kerajaan Balanipa dalam kurung pra islamisasi memiliki dua kelembagaan kerajaan, Mara’dia (raja) dan Ada’ (adat). Setelah mengalami islamisasi, bertambah menjadi tiga lembaga, yaitu Parewa Sara’. Hal ini persis terjadi di kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar, yang memasukkan unsur sara’ dalam struktur panngandereng. 

Lembaga Parewa Sara’ ini dipimpin oleh seorang bergelar Kali (qadhi) dan diberi kewenangan untuk mengatur perihal keagamaan, seperti pengembagan ajaran Islam, upacara-upacara keagamaan, dan pembinaan masjid. Parewa Sara’ mempunyai sub kelembagaan di bawahnya, yaitu Parewa Masigi, yang diberi tugas dan kewenangan untuk mengelola masjid. Di dalamnya terdiri dari, imang (imam), katte’ (khatib), bilal (muazzin), dan doja (bendahara masjid). 

Hal yang menarik dari Kerajaan Balanipa, walaupun memiliki kelembagaan di bidang keagamaan, tetapi tidak secara otomatis rajanya berganti gelar menjadi sultan dan kerajaan berubah menjadi kesultanan. Berbeda halnya di kerajaan-kerajaan lainnya, seperti di Gowa, Aceh, Jawa, dan Bima. 

Kedua, integrasi di bidang kesusastraan dan seni. Di buku “Sejarah Islam di Mandar” menyebutkan bahwa kesusastraan Mandar terdapat di dalam pappasang  (pesan-pesan leluhur) dan kalinda’da’ (pantun). Di aspek inilah pengaruh Islam sangat besar. 

Misalnya, salah satu teks atau lirik pappasang dan kalinda’da’ yang masih kerap kita dengar dari orang tua, yaitu “dalle pole dipuang, barakka di Nabitta, anna salama’ lino anna ahera’” artinya, rezki dari Tuhan, berkah dari Nabi, agar selamat dunia dan akhirat.

Kalinda’da’ biasanya dilantunkan di saat penyelenggaraan messawe sayyang pattuqduq (menunggangi kuda menari) bagi anak-anak atau remaja yang sudah khatam Alquran. Tradisi messawe ini juga menarik dikemukakan di sini, sebab ajaran Islam dan unsur-unsur kebudayaan Mandar terintegrasi di dalamnya. 

Salah satu unsur kebudayaan Mandar yang melekat di tradisi ini adalah penggunaan baju adat (pokko) bagi penunggang perempuan. Di tradisi inilah negosiasi kreatif Islam dan budaya Mandar nampak begitu jelas. Selain itu, lagu-lagu Mandar (elong-elong) yang didendangkan bersama dengan iringan instrument kacaping (kacapi) juga mengalami pengaruh islamisasi kultural. 

Salah satu penggalan lirik elong-elong Mandar yang menunjukkan hal itu, adalah “bismillah urunna elong, Allah salama’ nasang inggannana mairrangngi”, artinya, “dengan nama Allah, pembuka lagu, dari Allah keselamatan bagi semua yang mendengar lagu ini”. 

Ketiga, integrasi di bidang upacara siklus hidup. Upacara siklus hidup itu mencakup upacara kehamilan, kelahiran, pernikahan, dan kematian. Di masyarakat Mandar, upacara ini masih tergolong sakral, dan pelaksanaannya pun melibatkan banyak orang, baik dari pihak keluarga, tetangga, tokoh agama, maupun tokoh adat. 

Simbol ajaran Islam yang melekat dalam tradisi ini, yaitu pembacaan kitab barasanji (karya Syeik Ja’far al-Barasanji) dan tahlilan (upacara kematian) dengan perangkat budaya yang khas dan unik.  

Di bidang arsitektur bangunan rumah, etika sosial, kearifan-kearifan lokal dan ritual-ritual masyarakat pesisir dan pedalaman, yang semua itu menampilkan corak tersendiri sebagai bentuk dari proses integrasi Islam dan kebudayaan Mandar.  

Khazanah kebudayaan Mandar inilah turut membentuk perilaku dan pandangan dunia (world view) masyarakat Mandar, yang kemudian membedakan orang Mandar dengan orang lain.   

Penulis: Suardi Kaco, H

(Pegiat Budaya Lokal, Tinggal di Polman)