laporan anda

Kader PMII RE UMI Gugur dan Stimulan Gerakan 98 (Bagian III)

Kader PMII RE UMI Gugur dan Stimulan Gerakan 98 (Bagian III)

Keterangan Gambar : Istimewa

Pancarian Andi Sultan (almarhum) oleh Umar Ringkasa masih berlanjut keesokan harinya, 25 April 1996, sekitar pukul 10.00 Umar Ringkasa berusaha masuk ke kampus untuk mencari keberadaan Andi Sultan (Almarhum).

Namun saat itu, penjagaan sangat ketat oleh aparat, sehingga dirinya tidak bisa masuk kampus. Bahkan jalan tikuspun, katanya,  tidak bisa dilalui untuk masuk kamus.

Baca juga: Tragedi Amarah: Dari Pemberhentian Damri Hingga Terjadinya Amarah 1996 (Bagian II)

Beberapa jam kemudian terdengar kabar bahwa ada tiga mayat mahasiswa UMI ditemukan di sungai Pampang, dan salah satunya adalah Andi Sultan dengan kondisi tubuh yang sudah membengkak.

“Di badannya terdapat bekas sepatu laras dan beberapa bekas senjata tajam”, jelas Umar dengan suara yang terbatah-batah karena sedih mengingat sahabat dekatnya itu.

Peristiwa penemuan mayat tersebut, sontak memicu letusan amarah mahasiswa dari berbagai kampus, dan melakukan aksi solidaritas.

Munurut Masrudi Ahmad Sukaepa, S.E , yang juga Sekretaris BEM Fakultas Ekonomi UMI saat itu, menyampaikan bahwa dari sisi medis, Almarhum Andi Sultan sudah meninggal baru dibuang di sungai Pampang. Karena tidak ditemukan banyak air dalam perutnya, artinya bahwa Andi Sultan meninggal bukan karena tenggelam.

Setelah jasadnya ditemukan, Almarhum Andi Sultan dibawa ke rumah duka. Salah satu yang memandikan adalah sahabat dekatnya, yaitu Umar Ringkasa. Berdasarkan penuturannya, bahwa saat dimandikan, jenazah Almarhum sudah dalam keadaan membusuk, sehingga harus dibalut kain sebanyak tujuh lapis.

Saat itu, sahabat-sahabat Almarhum Andi Sultan berdatangan ke rumah duka, dan disaat bersamaan beberapa aparat datang dan berusaha menangkap dan mengejar mereka, karena dianggap sebagai inisiator aksi solidaritas tersebut.

Amarah Stimulan Gerakan 98

Kabar meninggalnya tiga orang mahasiswa UMI menjadi penyebab lahirnya aksi solidaritas mahasiswa dari berbagai kampus di beberapa daerah. Adapun daerah-daerah yang melakukan aksi solidaritas adalah Yogyakarta, Surabaya, Palembang dan Jakarta.

Saat itu, gelombang demonstrasi kian memanas, tuntutan mahasiswa bertambah tidak hanya soal tarif Angkot. Tapi melebar pada isu pelanggaran hak asasi manusia.

Aksinya pun semakin massif karena gerakan mahasiswa tersebut mendapat dukungan dari Baharuddin Lopa yang saat itu adalah anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnasham), dan kebetulan juga, Almarhum Andi Sultan adalah keponakan dari Baharuddin Lopa.

Tragedi Amarah 1996 dipercaya oleh beberapa pihak, termasuk para pelakunya bahwa gerakan tersebut menjadi kunci dan stimulan lahirnya gerakan mahasiswa 1998 dalam menggulingkan kekuasaan otoriter Orde Baru.

Meski setelah Amarah 1996, terjadi beberapa rentetan gerakan mahasiswa menuju ke-98, namun diyakini bahwa Amarah merupakan titik tolak pertama gerakan 98 yang direspon oleh mahasiswa dari berbagai daerah.

Utang Sejarah Fachrul Razi dalam Amarah

Orde Baru menggunakan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan. Termasuk menggunakan aparat TNI dalam membungkam dan menangkapi berbagai kelompok dan individu yang menentang kekuasaan. Tidak terkecuali gerakan mahasiswa yang berpotensi melemahkan kekuasaannya.

Seperti diketahui bahwa pada peristiwa Amarah 1996, tidak hanya polisi yang diturunkan untuk membungkam gerakan mahasiswa, tapi juga TNI berpakaian lengkap, bahkan menurunkan sebuah kendaraan tank/panser masuk ke kampus UMI untuk menangkap dan melakukan tindakan represif terhadap mahasiswa.

Gerakan represif tersebut jelas-jelas melanggar Normalisasi Kehidupan Kampus yang dikeluarkan sendiri oleh pemerintah. Karena para aparat masuk dalam kampus tidak dengan persetujuan birokrasi UMI, apalagi dengan para pengurus BEM dan BPM setiap Fakultas dalam lingkup UMI.

“Jelas tindakan tersebut menyalahi otonomi kampus,” terang Masrudi Ahmad Sukaepa yang saat itu menjabat Sekretaris BEM Fakultas Ekonomi UMI.

Sementara itu, menurut pemaparan Abdul Kadir, bahwa setelah jatuhnya korban, beberapa pertemuan dilakukan mahasiswa bersama Komnasham kepada beberapa pihak untuk mengusut pelaku pembunuhan tiga mahasiswa UMI itu.

Termasuk pertemuan dengan aparat TNI melalui Pangdam Mayor Jenderal TNI Silatin dan Kasdam yang saat itu dijabat oleh Fachrul Razi dan saat ini menjabat Menteri Agama Republik Indonesia.

Tentu jabatan Fachrul Razi sebagai Kepala Staf Daerah Militer (Kasdam) VII/Wirabuana sangat strategis saat itu. Bahkan menurut Abdul Kadir, Fachrul Razi pernah menjadi pimpinan rapat dalam salah satu pertemuan.

Hingga saat ini, pelaku pembunuhan oleh tiga mahasiswa yang gugur tidak kunjung terungkap. Penyelidikan yang dilakukan atas tuntutan mahasiswa tidak membuahkan hasil titik terang. Tentu ini menjadi utang bagi Fachrul Razi yang menduduki jabatan strategis saat itu. (Bersambung)

Penulis: Muhammad Aras Prabowo

(Alumni Fakultas Ekonomi UMI, Mantan Ketua PMII RE UMI) 

Keterangan tulisan: dikompilasi dari notulensi diskusi yang dilaksanakan oleh Alumni PMII RE UMI pada tanggal 28 April 2020 dengan tema:  “Tragedi Amarah 1996 sebagai Cikal Bakal Gerakan Penggulingan Orde Baru 1998”.

Iklan Tengah