nalar

Kala Penyakit Kusta Melanda Tanah Mandar pada Abad 19

Kala Penyakit Kusta Melanda Tanah Mandar pada Abad 19

Sebelum masa kemerdekaan, tepatnya Abad 19 masyarakat Mandar yang berdiam di wilayah Majene dan Mamasa pernah dikabarkan pernah terserang penyakit Lepra. Hal itu berdasarkan catatan pemerintah kolonial Belanda, tahun 1925 sampai 1929.  

Meski demikian, sangat disayangkan catatan tersebut menyebutkan secara pasti  jumlah atau data penduduk yang terserang penyakit kusta tersebut demikian pula bahaya penyakit itu. 

Baca juga: Pasien Positif Corona di Sulbar Bertambah, Tiga di Mamuju, Dua Majene, Satu Mamasa

Namun dalam catatan Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (2013) menyebut bahwa informasi mengenai penyakit Lepra di Kabupaten Majene dan Mamasa dapat ditelusuri dari adanya satu jurnal kesehatan dengan penulis asal Belanda yang bernama Kaiser L berjudul “Leprabestrijding en lëprabehandeling in de Onderafdee-lingen Madjene en Mamasa (Celebes en Onderh.) in 1925-1929”

Dalam bahasa Inggris “Combating and Treatment of Leprosy in Madjene and Mamasa (Celebes) In 1925-1929” yang kemudian jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia berarti “Memerangi dan Perawatan Lepra di Majene dan Mamasa pada tahun 1925 hingga 1929”.

Kusta didefinisikan sebagai penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae dan terutama menyerang kulit dan saraf perifer (Cruz dkk: 2017). Kusta berasal dari bahasa India kustha yang telah dikenal sejak 1400 tahun sebelum masehi.

Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama dr. Gerhard Armauwer Hansen yang menemukan bakteri penyebabnya pada tahun 1874 di Norwegia (Kementerian Kesehatan RI: 2017).

Kusta merupakan penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi berupa ulserasi, mutilasi, dan deformitas. Komplikasi terjadi akibat kerusakan saraf sensorik dan motorik yang irreversibel, serta akibat adanya kerusakan berulang pada daerah anestesi yang disertai paralisis dan atrofi otot (Wisnu IM dkk: 2014).

Kusta tidak hanya berpengaruh pada unsur kesehatan saja, tetapi cukup perpengaruh terhadap keadaan sosial di masyarakat kala itu. Secara sosial dan ekonomi juga cukup berpengaruh karena adanya stigma negatif dari masyarakat.

Dalam tulisan (Kaiser L: 1930) menyebut bahwa penyakit ini menular lewat kontak manusia yang diperkirakan terjadi pada masa tahun 1929 sampai 1930 di daerah Kabupaten Majene dan Mamasa.

Selain itu, proses munculnya penyebaran penyakit ini diperkirakan karena kondisi ekonomi dan tingkat kemiskinan penduduk di wilayah tersebut.

Tak hanya itu, tingkat pengetahuan masyarakat dianggap salah satu penyebabnya. Karena minimnya akses pengetahuan tentang bahaya serta cara mengatasi penyakit ini menjadi sebuah masalah tersendiri yang dihadapi masyarakat Majene dan Mamasa.

Akses pengetahuan yang minim tentu dirasakan oleh masyarakat kala itu, karena Pendidikan hanya bisa diakses oleh kaum-kaum bangsawan dan mereka dari unsur kerajaan. Kaum kelas pekerja di masa itu menjadi bulan-bulanan penyakit Kusta.

Catatan (Kaiser L: 1930) menyebut frekuensi penyakit Lepra terjadi, dan daerah-daerah tempat terjadinya penyakit serta desa-desa yang terkena imbasnya. Lalu kemudian juga dijelaskan mengenai langkah penanganan pada penyakit Lepra ini yaitu dengan penanganan pada permukaan kulit (ulser dan scabies).

Dilanjutkan, bahwa Ulser adalah penyakit yang merupakan salah satu manifestasi penyakit Lepra yang berada dalam keadaan parah, dimana sebagian permukaan epitel kulit akan terbuka sementara scabies adalah biasa kita kenal dengan penyakit kudis yang disebabkan oleh adanya tungau sarcoptes scabiei dengan ciri khas adanya keropeng, kebotakan, dan rasa gatal pada kulit.

Dapat dibayangkan betapa kemudian kesehatan kulit masyarakat Mandar saat itu berada dalam titik yang paling rendah. Kala itu, pemerintah kolonial Belanda selalu melalukan intervensi terhadap penyakit Lepra ini. Hal ini dapat dilihat dengan perawatan khusus pemberian campuran minyak “Chaulmoogra”, “Thymol”, serta “Champor”.

Tiga macam minyak yang namanya sulit disebut bagi lidah orang-orang Mandar ini sudah sejak lama dikenal, sejak kolonial Belanda menggunakannya untuk menangani pasien penderita kusta pada daerah jajahannya. Meskipun diketahui obat ini belum cukup ampuh untuk menangani penyakit kusta.

Ketiga jenis obat ini hanya merupakan sebuah Teknik isolasi untuk mencegah sehingga penyakit kusta tidak menyebar. Tepat pada tahun 1950-an barulah penyakit kusta dapat disembuhkan.

Menurut catatan (Komunitas Penggiat Budaya & Wisata Mandar: 2013) bahwa kolonial Belanda memang dikenal cukup tanggap dalam hal kesehatan di daerah jajahannya.

Pembangunan Rumah Sakit (RS) di Kabupaten Majene yang saat ini menjadi lokasi “Museum Mandar” tidak pernah lepas dari pengaruh mereka. Mereka juga dalam beberap dokumentasi sejarah melakukan vaksinasi pada masyarakat miskin.

Oleh: Fathullah Syahrul

(Warga Tanah Mandar Majene Sulawesi Barat)