Sulbar

Ketua PSI Soroti Penanganan Bencana di Sulbar

Ketua PSI Soroti Penanganan Bencana di Sulbar

Keterangan Gambar : Ketua PSI Sulbar, Ahmad Zaky saat menghimbur anak-anak korban gempa di lokasi pengunsian di Desa Mekkatta, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene.

Seputarsulawesi.com, MamujuKetua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sulawesi Barat, Ahmad Zaky Al-Mahdaly menyoroti penanganan bencana di Sulbar. Menurut Zaky, pemerintah di Sulbar tidak menjalankan mitigasi bencana dengan baik, bahkan terlihat lemah dalam hal pemahaman manajemen bencana.

Zaky mengatakan, sampai hari ini, pihaknya belum melihat ada kebijakan yang diambil oleh pemerintah provinsi maupun daerah dalam menghadapi masalah pasca bencana. Pemerintah setempat hanya merespon kebijakan pemerintah pusat, selebihnya tidak ada.

"Beberapa fakta yang kami lihat menunjukkan bahwa kita tidak siap menghadapi bencana. Pemerintah tidak menjalankan mitigasi bencana. Dan kita lemah dalam hal manajemen bencana," kata Zaky saat dihubungi Seputarsulawesi.com di lokasi bencana, Majene, Kamis 28 Januari 2021.

Meski demikian, Zaki bersyukur dengan banyaknya relawan yang hadir di lokasi bencana. Menurutnya, keterlibatan relawan sangat penting, sebab andai tak ada relawan yang antusias bekerja, pemerintah Sulbar dipastikan kebablasan menghadapi dampak bencana.

Selain itu, Zaki juga menyampaikan, pihaknya telah mendistribusikan bantuan bencana  di beberap titik, dan saat ini sudah memasuki tahap keenam. Bantuan tersebut adalah donasi pengurus PSI di berbagai daerah di Indonesia, serta beberapa pengurus luar negeri, seperti Belanda dan Jerman.

"Tahap pertama kami mendistribusikan kebutuhan pokok seperti bahan makanan, air minum, kebutuhan anak balita dan perempuan, seperti popok dan pakaian dalam," jelasnya.

Bantuan tersebut didistribusikan di  Mamuju dan Majene. Khusus untuk Majene, PSI menyalurkan bantuannya di Desa  Kabiraan, Popenga dan Mekatta. Tahap selanjutnya, PSI akan menyalurkan bantuan obat-obatan dan mainan anak.


“Mainan anak sangat penting, karena ia bisa menjadi pemulihan mental anak. Apalagi  mereka sudah mulai jenuh di lokasi pengungsian, dan tak sabar ingin kembali ke rumah. Belum lagi pasca gempa,  banyak berita hoaks bertebaran mengabarkan akan adanya gempa susulan dan ini cukup mengganggu psikologi anak-anak,” jelas Zaky.