Nasional

Kolaborasi Kunci Utama Bisnis Fintech di Era Pandemi Covid-19

Kolaborasi Kunci Utama Bisnis Fintech di Era Pandemi Covid-19

Keterangan Gambar : Muhammad Aras Prabowo

Seputarsulawesi.com, Jakarta- Selain masalah kesehatan, Covid-19 juga secara nyata berdampak terhadap perekonomian dunia, tidak terkecuali Indonesia. Beberapa negara terpaksa harus menerapkan lock down, sementara Indonesia lebih memilih menerapkan Pembatasan Sosial Bersakala Besar (PSBB) guna menekan penyebaran Covid-19. 

Di tengah pandemi Covid-19, pemerintah meminta masyarakat untuk beraktivitas dan beribadah di rumah guna menghindari kerumunan yang bisa mengakibatkan Covid-19 menyebar luas.  Kebijakan PSBB ini, menurut  Muhammad Aras Prabowo menjadi pemicu massifnya penggunaan teknologi gadget untuk bertransaksi dalam memenuhi kebutuhannya selama di rumah. 

"Itu pulalah yang menjadi pemantik berkembangnya finansial teknologi (Fintech) di Indonesia. Di balik musibah selalu ada hikmah yang diselipkan oleh Tuhan,” jelas Muhammad Aras Prabowo yang juga Dosen Universitas Nahdatul Ulama Indonesia (UNISIA) saat menjadi pembicara di kegiatan Talk Show Virtual “Partisipasi Milenial dalam Arus Finansial Teknologi di Era dan Pasca Pandemi, Selasa 16 Februari 2021 lalu. 

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa MAP ini menyampaikan, kaum milenial adalah pengguna terbanyak Fintech, baik sebagai produsen maupun konsumen. Makanya itu, kaum milenial menurut MAP harus bisa berpatisipasi dan berkonstribusi aktif dalam Fintech dengan menjadi produsen atau memanfaatkan Fintech dalam menjalankan usaha. 

"Untuk itu, kaum milenial harus memiliki kompetensi, mampu berinovasi, kreatif, berkolaborasi dan mengendepankan etika,” jelas pria Kelahiran Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan ini.

MAP menyampaikan, di era pandemi Covid-19, kolaborasi adalah kunci utama para milenial dalam Fintech. Sebab bisnis yang kuat menurutnya adalah bisnis yang mampu bertahan di setiap situasi. Makanya itu, kalangan milenial harus bisa memiliki pemahaman yang komprehensif terhadap fenomena yang terjadi, baik dari dalam maupun di luar lingkungan bisnis. 

"Kolaborasi adalah kunci untuk menjawab seluruh tantangan dan kendala agar bisnis mampu bertahan dan berkelanjutan,” katanya lagi. 

Senada dengan MAP, Ela Siti Nuryama, Anggota DPR RI Komisi XI yang menjadi pembicara kedua di acara ini mengakui, pelaku usaha finansial teknologi didominasi oleh kaum milenial, kelompok usia tua lebih banyak bertindak sebagai konsumen. Momentum kemajuan finansial teknologi, menurutnya harus bisa disikapi oleh Kaum milenial dengan menentukan posisi yang tepat. 

"Apakah menjadi produsen, konsumen dan penggiat finansial teknologi,” jelasnya.

Legislator asal Provinsi Lampung ini menyampaikan, pinjaman melalui finansial teknologi sebaiknya difokuskan untuk pelaku usaha UMKM. Karena sebanyak 5 juta UMKM di Indonesia masih melakukan pinjaman ke rentenir.

Sementara itu, Triyono yang menjadi pembicara ketiga menyampaikan,Otorisasi Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) harus berkolaborasi untuk mendorong kemajuan finansial teknologi dengan taat pada aturan yang sudah dibuat oleh pemerintah. Menurutnya, LJK dituntut untuk selalu berinovasi, kreatif dan berkolaboratif satu dengan yang lain dalam menghasilkan produk sesuai dengan kebutuhan konsumen.

"Fintech secara regulasi belum kuat tetapi pengembangan aturannya sedang mengarah untuk penyesuaian sesuai kendala dan fenomena yang dihadapi finansial teknologi," jelas Kepala Eksekutif Group Inovasi Keuangan Digital OJK. 

Sekadar diketahui acara Talk Show Virtual ini diselenggarakan oleh Pemuda Ekonomi Syariah (DEA-SYA). Kegiatan adalah salah satu program kerja dan usaha untuk mewadahi Pengurus DEA-SYA, Pemuda/Kaum Milenial dan Masyarakat Umum yang tertarik terhadap informasi finansial teknologi (Fintech).