Sulsel

Kondisi Kejiwaan Kaum Radikalis

Kondisi Kejiwaan Kaum Radikalis

Seputarsulawesi.com, Makassar- “Radikaslime adalah sebuah sikap (attitude) yang merupakan domain Psikologi. Ia adalah cara berpikir dan keberpihakan berlebihan pada suatu paham, aliran, dan doktrin yang dianggap benar dan berusaha diwujudkan melalui kekerasan, ekstrimisme, dan teror meski mengorbankan orang lain”

 

Baca juga: Media Sosial, Penyebab Seseorang Mudah Terpapar Paham Radikal

Demikian dikemukan Prof. Dr. Muh. Jufri, saat menjadi pembicara di kegiatan Seminar Daring yang diselenggarakan oleh FKPT Sulsel bekerjasama dengan beberapa kampus di Makassar, Kamis, 02 Juli 2020.

Di kegiatan yang bertemakan “"Radikalisme Ditinjau dari Berbagai Aspek," itu, Dekan Fakultas Psikologi UNM ini juga menyampaikan bahwa penanganan paham radikal bukan hal yang mudah, apalagi di tengah keterbukaan Informasi, turut mempercepat sikap dan perilaku radikal. Khususnya di kalangan anak usia remaja.

Selain keterbukaan informasi, politik identitas dan tekanan mental juga bisa berpengaruh terhadap sikap radikalisme. Merasa identitas dan kelompoknya tidak mendapatkan perhatian bisa berdampak pada sikap resisten.

Mereka punya harapan besar terhadap negara, namun tidak kunjung menuai harapan, maka memungkinkan seseorang tersugesti perilaku agresi, dikarenakan frustrasi. Sementara tekanan mental terkait masalah kepribadian, dan biasanya diwujudkan dalam sikap arogan dan merasa diri dilecehkan

“Agama, politik dan ekonomi adalah domain radikalisme, sementara frustrasi, agresi, persepsi idenititas negatif dan tekanan mental seperti arogan, narsistik, sosiopatik menjadi prediktor tindakan radikalisme,” jelas Prof Jufri..

Guna mengantisipasi gejala radikalisme tersebut, Prof Jufri menyarankan pentingnya penguatan pendidikan dan sosial. Menurutnya, kurikulum kebinekaan dan wawasan kebangsaan harus kembali diperkuat, salah satunya dengan cara mengoptimalkan peran keluarga, sebagai lembaga pendidikan yang pertama dan utama untuk anak-anak usia dini.

“Semangat menerima perbedaan sebagai sesuatu yang positif harus bisa ditanamkan sejak dini  kepada mereka. Dan tentu saja guru atau pembina harus bisa tampil sebagai teladan. Sementara dari segi sosial, kesenjangan harus bisa diperkecil,” jelas Prof. Jufri.

 

Sementara itu, Prof. Dr, Faridah Patitingi mengatakan, meski UUD 45 bisa menjadi dasar negara untuk melindungi warganya dari pengaruh radikalisme, namun karena radikalisme terkait aspek ideologi, maka pendekatannya pun harus interaktif.

 

Menurutnya, karena radikalisme berada pada ranah pemahaman, maka pendekatan agama, sosial, pisikologi menjadi penting. Hukum bentindak ketika terjadi dalam bentuk tindakan.


"Tidak ada aturan khusus tentang radikalisme, nanti berujung pada tindakan baru hukum bekerja,” jelas Dekan Fakultas Hukum Unhas ini.