Sulsel

Malam ini, Warga NU Gelar Tahlilan Virtual untuk Almarhum Bisri Efendy

Malam ini, Warga NU Gelar Tahlilan Virtual untuk Almarhum Bisri Efendy

Seputarsulawesi.com, Makassar- Sejumlah aktifis Nadlatul Ulama yang tergabung dalam berbagai organisasi dan komunitas di Sulawesi Selatan (Sulsel), malam ini menggelar yasinan dan tahlilan virtual untuk almarhum Bisri Efendy yang wafat pada, Senin 17 Agustus 2020. 

Selain itu, beberapa kalangan anak muda NU yang dikenal cukup dekat dengan almarhum juga menggelar khatamul al-Quran.

Baca juga: Santri Makassar Gelar Aksi Unjuk Rasa, Tolak RUU Omnibus Law

Alamrhum Bisri Effendy lahir di Jember, Jawa Timur, pada 12 Maret 1953. Semasa hidupnya, Karib KH Abdurahman Wahid atau Gusdur ini, dikenal sosok manusia yang ramah, peduli serta penuh perhatian terhadap orang lain.

Salah seorang murid Bisri Effendy, Syamsurijal Ad'han mengatakan, Pak Bisry adalah orang besar yang memilih jalan sunyi, tak ada hinggar-bingar, tak juga tertarik masuk kedalam gemuruh intelektual elit, meski ia termasuk orang punya pengetahuan dan pemahaman luas tentang dinamika kebudayaan di Indonesia.

"Ia adalah budayawan yang senantiasa mendampingi komunitas marginal. Ia betul betul berusaha semampunya agar suara lirih para komunitas lokal itu didengarkan dan ikut menentukan," tulis pria yang baru saja dinobatkan sebagai doktor ini diakun media sosialnya. 

Selain itu, lanjut Syamsurijal, di lingkungan NU, Bisri adalah tokoh yang diperhitungkan. Tidak sulit jika ia mau menjadi bagian elit dari organisasi ini. Tapi sekali lagi ia memilih tidak berada di pusat, tetapi di pinggir. 

"Di sisi yang kadang dilupakan banyak orang itulah, ia menemani anak anak muda NU. Di situlah ia menemani jemaah pinggiran NU. Jika ingin mencari salah satu sosok yang asli NU kultural, contohnya beliau itu, kata teman saya Miftahus Surur," ucap pria yang akrab disapa Ijal ijal ini. 

Ijal menjelaskan, jalan sunyi tidak hanya ditunjukkan dalam kerja kerja kebudayaan. Dalam sikap kesehariannya, kesederhanaan selalu mengiringi langkahnya. 

Ijal mengatakan, dirinya beserta kawan-kawannya kerapkali menyertai Pak Bisri saat ia bertandang ke Sulsel.  

"Terhadap orang alim-berilmu, kami memang punya kebiasaan untuk selalu menemani, sebab dengan selalu membersamai kita akan selalu mendapat kucuran pengetahuannya," kenang Ijal.

Selama menemani itu, tak sekalipun ia memilih hotel mewah untuk tempat tinggalnya. Bukan tidak mampu, tapi memang beliau merasa lebih nyaman tinggal di hotel bersahaja. Kamar hotelnya dibuka untuk Ijal dan rekan-rekannya. 

"Kamar hotel sekejap berubah menjadi tempat kosan. Itu pulalah barangkali salah satu alasannya mengapa ia tidak memilih hotel mewah. Agar kami semua bisa datang dan mengubah kamar hotel itu menjadi kos-kosan. Kami tinggal dan bermalam bisa sampai beberapa orang menemani beliau," ujarnya.

Ijal mengakui, bahwa Pak Bisri adalah guru yang mengajarkan kepadanya, agar suara suara komunitas marginal itu didengar, dan pak Bisri pulalah yang memberi contoh padanya, bahwa hidup di pinggir kekuasaan bukanlah hal yang tidak berharga. 

"Beliaulah yang mengajarkan bahwa gelar intelektual, jabatan, menjadi elite bukanlah segalanya," katanya lagi. 

Jika hari ini Ijal sedikit bisa meriset, menulis dan memahami kebudayaan, hal itu tak lepas dari bimbingan Pak Bisri.

"Pagi tadi saya mendapatkan berita, beliau, mas Bisri Efendy, telah dipanggil yang Maha Kuasa.  Tunailah sudah tugas tugas kebudayaan-Mu di dunia ini. Sangat sedih tentu saja. Semoga engkau damai di sisi Allah SWT. Alfatihah untukmu wahai guru dan orang tua kami. Selamat jalan,  ulama dan kiai kebudayann," tutur Ijal.