Sulsel

Media Sosial, Penyebab Seseorang Mudah Terpapar Paham Radikal

Media Sosial, Penyebab Seseorang Mudah Terpapar Paham Radikal

Seputarsulawesi.com, Makassar- Mantan Pelaku dan Terpidana Kasus Terorisme (Napiter) Kurnia Widodo meminta warga untuk senantiasa waspada dini terhadap gerakan kelompok Radikal-teroris. Apalagi di era kemajuan teknologi saat ini, semakin memudahkan kelompok radikal-teroris merekrut anggota, melakukan pelatihan dan propaganda secara online.  

“Sekarang orang cepat terpapar radikalisme karena pengaruh internet. Beda zaman saya dulu, pertemuan dan perekrutan harus dilakukan dengan tatap muka,” kata Kurnia Widodo, saat menjadi pembicara di kegiatan Seminar Daring yang diselenggarakan oleh FKPT Sulsel bekerjasama dengan beberapa kampus di Makassar, Kamis, 02 Juli 2020.

Baca juga: Terorisme Gerakan Nyata Berbasis Ideologi

Lebih lanjut, mantan spesialis perakit bom teroris ini mengatakan, jangankan warga dalam negeri, warga Indonesia yang berada di luar negeri pun bisa dipengaruhi lewat media online, salah satunya adalah  TKW di Hongkong yang mampu dipengaruhi Bahrun Naim hanya dengan menggunakan media sosial.

Kurnia mengatakan, media sosial tidak hanya mempermudah kalangan radikal-teroris melancarkan pengaruhnya, tapi juga mengajarkan teknik-teknik teror dan merakit bom. Hal itu terlihat pada diri Bahrun Naim. Lewat media sosial itu, ia tidak hanya bisa mempangaruhi orang lain untuk bergabung kedalam kelompoknya, tapi juga mengajarkan teknik aksi dan pembuatan bom.

“Setelah tiga bulan saya mengajari Bahrun Naim, lewat media sosial, Bahrun Naim tidak hanya lihai mempropagandakan ISIS, tapi juga mampu mengajari seseorang tata cara merakit bom secara online,” jelas pria kelahiran  1 September 1974 ini.

Selain itu, lanjut Kurnia, media sosial juga kerap diajadikan sebagai ajang perjodohan kelompok radikalis. Sementara akad nikahnya selain dilakukan secara online dengan menggunakan chat atau video call, juga wali nikah dari kalangan mereka sendiri, dan ini sudah menjadi hal yang lumrah.

Menurut paham mereka, pernikahan dianggap tidak sah jika menggunakan wali hakim atau orang tua yang berstatus PNS. Alasannya karena abdi negara tersebut telah kafir karena mengakui sistem kufur, yaitu pancasila dan demokrasi.

“Jadi ada kelompok kita dulu, dalam satu waktu suaminya dua. Karena sering ikut pegajian dan mau bergabung dan nikah dengan kelompok kami,” kata Kurnia.

Landasan Ideologis

Kurnia menegaskan, faktor utama penyebab seseorang menjadi radikal-teroris adalah ideologi. Sementara kemiskinan, kesenjangan sosial,  ketidakadilan, dendam dan pertemanan (kinship) adalah faktor tambahan.

Adapun doktrin yang sangat kuat mempengaruhi kelompok teroris adalah pola pemahaman keagamaan yang hitam-putih, dengan menjadikan tauhid sebagai pondasi utama, serta meyakini bahwa mayoritas umat Islam tidak bertauhid dengan benar.

Tak hanya itu, kelompok yang mengaku paling benar dalam beragama ini juga diwajibkan mengkafirkan kelompok atau orang yang tidak sehaluan dengan mereka. Landasannya merujuk ke pandangan Abdul Wahab yang mengatakan;

man lam yukaffir al kafira aw syakka fii kufrihim fahuwa kaafir (Barangsiapa Yang Tidak Mengkafirkan Orang Kafir, Atau Ragu-Ragu Dengan Kekafiran Mereka Maka Dia Ikut Kafir).

“Kelompok radikal-teroris sangat keras, yang tidak sehaluan atau sepaham dengan mereka tidak segan-segan dikafirkan. Isis di Surya sangat Wahabi, menghancurkan kuburan, termasuk kuburan nabi, serta gampang membidakan seseorang,” jelas Kurnia.

Selain itu, kelompok radikal-teroris juga menyebut bahwa Indonesia, Pakistan, Malaysia, Jordania Bahkan Saudi Arabia adalah toghut dan masuk ketegori negara kafir, serta wajib menghindari simbol-simbol negara tersebut, seperti  hormat bendera, upacara, menyanyikan lagu kebangsaan, sumpah pegawai negeri dan sebagainya.

Sumber Radikalisme

Menanggapi hal tersebut, Dr. Kamaluddin Abu Nawas mengatakan, sikap fundamentalis, radikal dan teroris bertentangan dengan ajaran Islam yang menganjurkan sikap tawasut atau moderat. Menurutnya, radikalisme didasari oleh pemikiran fundamentalis yang bersumber dari pemahaman agama yang tekstual.

“Meski dalam Islam, kita juga diminta untuk fundamentalis, seperti dalam hal menjalankan ibadah, namun ada batasan karena tidak boleh dilakukan secara berlebih-lebihan,” jelas Ketua Bidang Agama dan Budaya FKPT Sulsel ini.

Lebih lanjut, akademisi UIN Alauddin Makassar ini menyampaikan, pemahaman radikal yang berlebihan harus bisa dicegah, terutama dalam hal pemahaman dan cara pandang teologis yang sifatnya tekstual.

Narasi kafir yang erat kaitannya dengan teologi, sebagaimana yang disampaikan oleh Kurnia tadi, menurut Kamaluddin bukanlah hal baru dalam Islam, sebab sebelumnya sudah ada kelompok bernama khawarij yang intens melakukan pengkafiran terhadap kelompok lain yang tidak sehaluan dengan mereka.

“Narasi kafir juga terjadi dalam konteks piqhi. Saya pernah mengunjungi salah satu sekolah SMA, disitu tertera tata cara salat, jika tidak mengikuti tata cara itu dianggap salah, atau tidak sah. Padahal ini adalah ranah piqhi,” jelas Kamaluddin.

Terkait pengalaman pribadi tersebut, Kamaluddin menyarankan agar pembejaran agama yang sifat moderat diperkuat di sekolah-sekolah. Mereka harus  diberi pemahaman yang baik. Apalagi sudah ada sekolah yang  tidak mau mengakses kurikulum negara serta tak mau lagi upacara dan hormat bendera.