Kolom

Menanti Kekasih

Saprillah Syahrir Albayqunie

Baca juga: Pemimpin yang Dirindukan Umat

(Penulis Novel Jejak)

Menanti kekasih di sudut sore, ketika matahari berangkat pulang!  Tumpukan sampah dan aroma laut yang mulai tak sedap di bibir bagian utara Pantai Losari, adalah tempat yang sempurna bagi Rukiyah dan Sampara. Dua orang pemulung yang saling mencintai. Di tempat itu, mereka dapat menyaksikan keangkuhan hotel-hotel dan perumahan mewah , laut yang tergerus demi memenuhi keinginan penguasa, dan orang-orang kaya yang lalu-lalang dengan mobil berbensin subsidi. Untungnya, pemandangan matahari sore Losari tidak berpihak, tetap terlihat sangat indah dari tempat mereka.
 
Setiap hari Rukiyah dan Sampara bertemu di tempat itu, setelah seharian mengais sampah di sudut-sudut kota Makassar. Dengan baju lusuh, wajah tanpa riasan, dan tubuh yang beraroma matahari, Rukiyah selalu bergairah menanti kekasihnya itu. Ia selalu yakin Sampara pasti datang. Selama dua tahun, tak pernah sekalipun Sampara tidak datang. Mereka tidak butuh sms-an, fb-an, twitter-an, bbm-an, seperti para pecinta kelas menengah, untuk mengatur janji. Cinta mereka tak butuh teknologi!  Rukiyah hanya butuh memejamkan mata, Sampara pasti sudah datang melambaikan tangan, menghadirkan cinta dan memberikan gairah.
 
Sampara memberikan cinta dengan caranya sendiri, selalu memberikan kejutan yang membuat Rukiyah merasa istimewa. Sampara pernah suatu waktu lari tergopoh-gopoh! Ia datang dengan senyum yang lebar dan menyodorkan bungkusan yang menurutnya sebagai hadiah ulang tahun! Uniknya Sampara tidak mengerti kapan ulang tahun Rukiyah dan Rukiyah pun tak mengerti tanggal berapa ia dilahirkan. “Pasti salah satu hari dari satu tahun ini, ada ulang tahun kita!” begitu kata Sampara ketika menyodorkan “kado ultahnya”. Kado yang berisi sepotong baju bermerek dengan noda tinta yang cukup lebar di belakangnya. Sampara menemukannya di tempat sampah rumah orang kaya. Ia berkelahi dengan kawan sesama pemulung untuk mendapatkan itu. Dengan bangga, Sampara menunjukkan bekas luka yang masih menyisakan darah! Rukiyah tersenyum bahagia. Segera ia memakai baju pungutan itu, “cantik mentong pacar-ku ini!” puji Sampara dan lalu mengecupnya. Rukiyah pun terbang ke langit!
 
Tetapi hari ini berbeda! Untuk pertama kali dalam dua tahun hubungan mereka, Sampara tidak datang. Rukiyah melewatkan pemandangan matahari tenggelam Losari sendirian. Rukiyah galau dan tak berselera! Pemandangan sore itu yang sesungguhnya sangat indah menjadi pias dan pudar. Tak ada candaan, tak ada kecupan, dan tak ada kejutan dari Sampara lagi. Hati Rukiyah sedih dan mulai merasakan air matanya meleleh. Rukiyah semakin kaget, ketika seorang anak kecil yang ia tahu tetangga Sampara datang mendekati-nya dan membisikkan sesuatu dengan nafas yang tersengal, “Sampara meninggal dunia!”. Rukiyah menjerit dan pingsan.
------------
Sampara meninggal dalam sebuah tragedi!
Pagi hari, seperti biasa, Sampara berjalan menyusuri kota, menjalani rutinitas sebagai pemulung. mencari barang terbuang dari warga kota. Sampara tidak tahu kalau hari itu ada kerumunan massa di daerah pecinan. Sampara tidak tahu kalau semalam kota tegang. Seorang China yang kurang waras membunuh seorang anak pejabat tinggi.
 
Maka kota pun menjadi tegang. Seluruh warga kota marah dan ingin melampiaskan dendam kepada seluruh warga Tionghoa. Sweeping warga Tionghoa dilakukan. Seluruh toko milik orang Tionghoa terpaksa tutup dan mengungsi ke tempat yang aman. Mereka tahu kalau pagi ini, warga kota akan menyerang dan mencari warga Tionghoa.
 
Sampara tidak tahu semua itu. Ia tetap seperti biasa mencari barang bekas di rumah-rumah warga. Kali ini di belakang sebuah toko bangunan milik orang Tionghoa. Suasana terdengar gaduh! Sampara merasa terusik dengan teriakan tolong dari dalam toko. Dengan memberanikan diri, Sampara melongok ke jendela. Terlihat seorang gadis Tionghoa dan kakeknya yang sedang sakit. Sang gadis cemas! Pintu depan toko digedor oleh massa. Teriakan tolong dari mulut sang gadis justeru membuat amarah warga semakin memuncak. Sejak tadi mereka memang mencari warga Tionghoa. Tidak ada yang tersisa kecuali gadis dan kakeknya yang sakit itu. Maka pintu rumah digedor dengan benda keras, dan jebol! “Bunuuuh! Bunuh!” teriakan warga begitu gaduh.
 
Sampara segera melompat masuk rumah dan dengan sigap menggendong kakek itu. “Ayo lari....!” kata Sampara kepada gadis China. Massa yang melihat Sampara membawa lari kakek China dan gadis itu, dengan sigap mengejar! Sampara sambil menggendong tubuh si kakek berlari sekencang mungkin. Massa tetap mengejar. Sampara tidak tahu mau lari kemana, ia hanya mengikuti nalurinya untuk menyelamatkan kedua warga China ini. Tetapi malang, sebuah lemparan kayu dari warga tepat mengenai kakinya, Sampara terjatuh! Warga semakin mendekat, dan mulai memukulkan kayu. “ Lari...ko!!” teriaknya kepada gadis China. Tetapi sang kakek yang sakit tidak sanggup lari. Sampara membalikkan badan dan menelungkupi tubuh sang kakek. Satu per satu pukulan kayu dan tangan warga mengenai badan, dan kepala Sampara. Sampara berusaha sekuat mungkin melindungi si kakek dari pukulan dengan membiarkan seluruh tubuhnya menjadi sasaran. Tubuh Sampara –akhirnya- tidak kuat menahan pukulan yang bertubi-tubi. Sampara pingsan dan akhirnya meninggal dalam pelukan kakek China.   

Sebulan berlalu
Tak ada yang mengenang kisah Sampara. Sampara hanya pemulung! Kelas sosial yang sama sekali tidak diperhitungkan oleh peradaban. Mereka hidup atau mati  sama saja, tak terhitung!
Hanya Rukiyah yang selalu mengingat Sampara! Lelaki yang selama ini memberinya cinta. Lelaki yang mengubah tempat tumpukan sampah menjadi indah. Lelaki yang  sejenak memberinya “nyawa” dari kematian sosial yang dialami.
 Setiap sore, ketika matahari berangkat pulang, Rukiyah tetap setia berada di tempat itu. Memejamkan mata, sambil berharap Sampara ada di depannya memberi hadiah dari barang-barang bekas orang kaya, ketika membuka mata nanti. Tetapi Sampara memang tak pernah datang lagi!