nalar

Mengenang 55 Tahun Robohnya Masjid Raya Campalagian

Mengenang 55 Tahun Robohnya Masjid Raya Campalagian

Keterangan Gambar : dok. Wajidi Sayadi

Tanggal 1 Muharram adalah hari bersejarah dan berkabung oleh masyarakat Mandar pada umumnya, khsususnya Campalagian, dan lebih khusus lagi masyarakat Kampung Masigi terutama yang sudah berumur 65 tahun ke atas, dimana masjid Raya Campalagian sebagai simbol kebanggaan umat Islam roboh, luluh lantah dan rata dengan tanah oleh gempa bumi yang dahsyat. Tepatnya hari Selasa, 1 Muharram 1387 H. Hari ini, tepat 55 tahun yang lalu. 

Kejadian itu bertepatan dengan 11 April 1967 gempa bumi yang dahsyat 6.0 SR di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah hingga Philipina yang menewaskan sekitar 58 orang dan memporak-porandakan bangunan rumah, sekolah, toko, dan masjid, termasuk Masjid Raya Campalagian. 

Baca juga: Pasien Positif Covid-19 di Polman Bertambah

Di antara yang menjadi korban jiwa pada hari itu adalah Ampo Kaco Laidu yang posisi rumahnya berhadapan rumah orang tua saya, samping selatan masjid, tepatnya Jl. KH. Muhammadiyah. Termasuk alm. bapak M. Munir (Cammuni) Abbana Nursan yang tertimbun reruntuhan bangunan masjid, cukup lama dicari baru ditemukan setelah suaranya terdengar dari balik reruntuhan bangunan masjid. 

Masjid Raya Campalagian yang saat ini berada di Kampung Masigi, Desa Bonde berdiri tahun 1828 M yang dipindahkan dari Kampung Banua atas inisiatif dan jasa Haji Muhammad Amin. Artinya, masjid ini sudah berusia 192 tahun.

Sebelumnya berada di Kampung Banua, masih berbentuk Langgar atau Mushalla yang didirikan pada masa To Matinro-E ri Dara’na dan To Ilang beserta Puanna Laumma sekitar pertengahan abad XVIII M atau akhir abad XVIII M, diperkirakan sekitar tahun 1790-an. Kalau berdasarkan catatan ini, maka masjid Raya Campalagian ini sudah berusia sekitar 230 tahun. 

Dalam usia lebih 200 tahun, masjid ini sudah mengalami proses pemindahan wilayah dari Kampung Banua di Desa Parappe ke Kampung Masigi di Bonde, dan mengalami beberapa kali perluasan dan perbaikan serta renovasi bangunan dari masa ke masa. 

Bangunan masjid yang runtuh oleh gempa bumi 1 Muharram 1387 H adalah hasil perluasan pada masa Qadhi KH. Muhammad Zein. Pada masa awal kepemimpinan Beliau diangkat menjadi Qadhi tahun 1952 setelah KH. Maddappungan mengundurkan diri sebelum wafat tahun 1954, dibentuk susunan panitia pembangunan masjid pada tanggal 17 Pebruari 1952.  

Pelindung adalah H. Abd Madjid Maraddia Campalagian. Penasehat adalah KH. Maddappungan.

Ketua panitia adalah H. Juhari Abbana Nawabi (ayahnya Dahlan, ayahnya Nurdahlan Jerana, Hj. St. Asiah wa’na Yati, dan St. Nur wa’na Yeni). 

Sekretaris I adalah M. Mas’ud Rahman ayahnya Prof. Dr. Darmawan Mas’ud. 

Bendahara adalah H. Abdau.  Biaya yang diperlukan pada waktu itu diperkirakan sebanyak Rp. 150.000,- (seratus limapuluh ribu rupiah). 

Pada masa inilah perluasan masjid dilakukan hingga berukuran 40 X 42 M dengan arsitektur bangunan yang indah dan megah pada zamannya. Kubah tengah berukuran besar dikelilingi oleh empat kubah kecil di setiap sudut dengan ornament yang indah. 

Bangunan masjid yang begitu besar dan megah pada zamannya, runtuh dan luluh lantah dalam waktu sekejap oleh gempa bumi yang dahsyat 1 Muharram 1387 H/11 April 1967. Artinya bangunan masjid itu hanya bertahan sekitar 14 tahun.  

Setelah peristiwa gempa bumi, masjid ini dibangun kembali dengan konsrtruksi utama tiang kayu sappu (besi) yang cukup banyak di dinding dan ruang tengah hingga selesai sekitar tahun 1969. 

Masjid yang dibangun kembali sejak gempa bumi sudah berusia setengah abad yakni 50 tahun, kembali mengalami renovasi besar-besaran.  Pada tanggal 20 September 2017 M bertepatan 29 Dzulhijjah sehari sebelum 1 Muharram 1439 H renovasi besar-besaran hingga merubah wajah dan bentuk bangunan Masjid Raya Campalagian yang dibangun sejak tahun 1967-1969 secara resmi dimulai dan ditandai dengan peletakan batu pertama oleh H. Andi Ibrahim Masdar selaku Bupati Polman Sulawesi Barat. 

Hingga hari ini 1 Muharram 1442 H proses pembangunan masjid masih berlangsung. Semoga dalam waktu yang tidak lama lagi segera sampai pada tahap akhir penyelesaian.   

Penulis: Wajidi Sayadi

(Dosen IAIN Pontianak)