laporan anda

Peran Strategis PMII RE UMI dalam Amarah 1996 (Bagian IV Selesai)

Peran Strategis PMII RE UMI dalam Amarah 1996 (Bagian IV Selesai)

Keterangan Gambar : istimewa

Jika kita mencermati kronologis kejadian di atas (baca: Amarah Bagian I, II dan III) bahwa gerakan kunci hingga lahir Amarah 1996 adalah aksi demonstrasi yang terjadi 24 April saat yang dipicu oleh pemberhentian Damri dari arah bandara menuju kota.

Tidak ada yang menafikan hal tersebut, jika kita telusuri berbagai jejak-jejak digital mengenai pemberitaan Amarah, semua mengakui bahwa awal dari Amarah adalah berawal dari pemalangan Damri. Termasuk beberapa diskusi yeng pernah diikuti oleh penulis saat masih menjadi mahasiswa di UMI.

Baca juga: Kader PMII RE UMI Gugur dan Stimulan Gerakan 98 (Bagian III)

Namun, tidak satupun yang menjelaskan secara detail mengenai siapa-siapa mahasiswa yang turut andil dalam pemberhentian Damri tersebut. Etah mengapa hal itu tidak dijelaskan? Atau mungkin hal tersebut tidak diketahuai oleh banyak orang.

Namun yang jelas bahwa peran kader PMII RE UMI yang tergabung dalam BEM dan BPM Fakultas Ekonomi UMI yang terdiri 12 orang mahasiswa adalah pemicu atas lahirnya gerakan Amarah 1996. Tentu tidak terlepas dari peran Bakrie Ridwan (Opan) sebagai pendesain sekaligus yang memimpin aksi pada saat itu.

Jika Mohamad Zamroni adalah tokoh kunci gerakan mahasiswa Tahun 1966, maka tokoh kunci gerakan mahasiswa dalam Amarah 1996 adalah Bakrie Ridwan. Tetapi peran serta dari berbagai elemen mahasiswa saat itu tidak bisa kita ke sampingkan.

Pasca penahanan Damri, gerakan mahasiswa bersatu padu menjadi gerakan yang mengancam kekuasaan Orde Baru. Hingga akhirnya harus menurunkan aparat TNI beserta tank/panser untuk membungkam gerakan mahasiswa.

Padahal menurut Abdul Kadir dan Masrudi Ahmad Sukaepa bahwa dalam aksi pada tanggal 24 April tersebut, tidak ada rencana untuk melakukan chaos. Apalagi ditunggangi oleh kepentingan tertentu. Murni gerakan tersebut alamiah dan spontanitas.

Lahir sebagai respon terhadap kebijakan pemerintah yang tidak prorakyat termasuk kepada mahasiswa atas SK Walikota mengenai kenaikan tarif angkutan umum.

Refleksi 24 Tahun Amarah 1996

Amarah 1996 adalah gerakan mahasiswa yang sangat fenomenal. Lahir dan digagas atas kesadaran mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah, yang saat itu merespon kenaikan tarif angkot dari Rp. 300 menjadi Rp. 500 yang dinilai tidak pro rakyat, termasuk mahasiswa.

Gerakan tersebut adalah bentuk aksi mahasiswa yang mencerminkan sikap moralitas, integritas dan idealisme dalam mengawal kepentingan masyarakat. Tidak dipengaruhi oleh pihak atau kelompok manapun.

Sikap tersebut adalah sebuah nilai yang patut direfleksikan oleh semua mahasiswa atau aktivis saat ini, yang gerakannya cenderung politis. Mahasiswa saat ini sangat elit, senang jika bergaul dengan kekuasaan termasuk berswafoto dengan penguasa.

Amarah harus dijadikan penyemangat dalam gerakan mahasiswa saat ini. Nilai-nilai gerakannya harus termanifestasi dalam aksi mahasiswa dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat. Juga Amarah perlu direfleksikan dalam bentuk simbol, yaitu dengan membangun tugu Amarah di dalam kampus UMI atau di depan kampus. Meskipun sudah ada tuguh penghargaan atas ke-3 mahasiswa UMI yang gugur.

“Rencana tersebut perlu disampaikan kepada pihak birokrasi kampus, apalagi Rektor saat ini adalah Mantan Ketua PMII RE UMI Prof. Dr. Basri Modding”, masukan dari Ahamad  Mantan Ketua RE UMI sebelum Amarah 1996.

Benang Merah PMII RE UMI dan Amarah

Pertama, bahwa aksi pemberhentian Damri dari arah bandara menuju kota digagas pada Malam tanggal 24 April 1996 di Sekretariat PMII RE UMI, kemudian dilanjutkan dikeesokan paginya di Kantin Fakultas Ekonomi UMI, hingga aksi pada pukul 09:00 pagi hingga memberhentikan dan menahan mobil Damri.

Kronologis singkatnya: Sekretariat PMII RE UMI – Kantin Fakultas Ekonomi UMI – Aksi di Depan Kampus – Menahan Mobil Damri.

Kedua, bahwa Amarah 1996 tidak bisa dilepaskan dari aksi pemberhentian dan penahanan mobil Damri oleh ke-12 mahasiswa dari kader PMII RE UMI yang tergabung dalam BEM dan BPM Fakultas Ekonomi UMI .

Ketiga, bahwa dari aksi pemberhentian dan penahanan mobil Damri tidak lepas dari penggagas, penyusun dan pimpinan aksi oleh Bakrie Ridwan (opan), yang oleh penulis layak disebut sebagai tokoh kunci gerakan Amarah 1996. Sebab aksi tersebutlah yang menjadi pemicu utama dalam Amarah 1996.

Penulis: Muhammad Aras Prabowo

(Alumni Fakultas Ekonomi UMI, Mantan Ketua PMII RE UMI)

 

Keterangan tulisan: dikompilasi dari notulensi diskusi yang dilaksanakan oleh Alumni PMII RE UMI pada tanggal 28 April 2020 dengan tema:  “Tragedi Amarah 1996 sebagai Cikal Bakal Gerakan Penggulingan Orde Baru 1998”.

Iklan Tengah