nalar

Post Traumatic Covid-19 Disorder

Post Traumatic Covid-19 Disorder

Keterangan Gambar : Muh. Qadri

Corona Virus Desease 2019 atau disingkat dengan Covid-19 adalah jenis  virus yang kesekian kalinya hadir dunia. Word Health Organization (WHO) menyebutkan,  Covid-19 memiliki daya dobrak yang hampir sama dengan Smallpox, wabah justinia, Great Plague, pandemi flu besar, Polio, HIV, SARS, Flu H1N1, Korela , virus zika dan ebola.

Covid-19 yang kemudian disebut WHO sebagai pandemi global ini terjadi dikarenakan penyebarannya mampu melampaui sekat bangsa, agama, dan negara. Berdasarkan data WHO suspect Covid-19 di seluruh dunia mencapai 3 juta orang lebih, kasus sembuh kurang  lebih 1 juta kasus, dan 200 ribu lebih dikonfirmasi meninggal dunia.

Sementara di Indonesia berdasarkan data KemenKes RI, kasus yang terkonfirmasi kini kurang lebih 12.000 kasus, sembuh kurang lebih 200 orang dan meninggal dunia kurang lebih 800 orang.

Covid-19 selain berdampak pada kesehatan dan keselamatan jiwa manusia, juga  pengaruhnya cukup besar terhadap laju pertumbuhan ekonomi, kondisi sosial, politik, agama, budaya dan kondisi kejiawaan (psikologi) masyarakat.

Dampak yang terakhir (baca psikologi) juga telah mempengaruhi banyak mental masyarakat, dan tak jarang ada merasa terancam dengan kehadiran orang-orang yang diduga atau terinveksi covid-19. Akibatnya, kecemasan manjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Fenomena ini,  dalam ilmu kejiwaan disebut sebagai post taumatic stress disorder,  disingkat (PTSD).

Post Traumatic Stess Disorder (PTSD)

Menurut ahli Psikologi, PTSD adalah gangguan mental yang dialami setelah kejadian luar biasa. PTSD sangat rentan menimpa orang-orang yang mengalami masalah atau persoalan yang sulit diterima oleh kondisi mentalnya serta tidak menutup kemungkinan akan menjadi bayang-bayang masa lalu.

Ahli psikoanalisi klasik, Sigmun Freud mengatakan, kecemasan realitas atau objektif (Reality or Objective Anxiety) adalah kecemasan yang bersumber dari adanya ketakutan terhadap bahaya yang mengancam di dunia nyata.

Gejala post traumatis stress disorder bisa dikelompokkan dalam empat jenis, yakni kenangan yang mengganggu atau instrusive memories, menghindari atau avoidance dan  mati rasa emosional atau emotional numbing,  serta kecemasan atau meningkatnya emosi atau hyperarousal.

Seseorang nantinya bisa didiagnosa menderita post traumatis stress disorder jika beberapa gejala dalam setiap kategori terjadi lebih dari satu bulan. Beberapa gejala yang termasuk kelompok instrusive memories diantaranya adalah seseorang mengalami kilas balik atau flashback kehidupan yang kembali ke peristiwa trauma psikologis dalam beberapa menit atau bahkan sampai beberapa hari.

Seseorang sering mengingat kembali kejadian traumatik tersebut, serta mengalami hal buruk tentangnya. Penderitaan emosional yang sangat dalam rentang terjadi karena stimuli yang menandakan kejadian tersebut

Orang-orang yang Suspect dan postif Covid-19, orang dalam pemantauaan (ODP) dan Pasien dalam pengawasan (PDP) yang diisolasi di ruang khusus atau yang diajurkan untuk isolasi diri dan karantina mandiri di rumah. Demikian pula,  tenaga medis yang bersentuhan langsung dengan pasien sangat mempengaruhi  kehidupan psikologis dan sosiologinya.

Orang-orang dalam kluster tersebut, secara otomatis akan munculkan perasaan dan perilaku baru, seperti cemas, takut, dinial (mengingkari), kurang percaya diri, malu, merasa terisolir, dan merasa dijauhkan dari lingkuangan sosialnya, sehingga mereka rentan atau berpotensi mengidap PTSD

Pot Traumatic Stress Disorder (PTSD) ditandai dengan gejala mengucilkan diri dari lingkungan atau merasa terisolir, mudah kesal, disfungsi seksual, energy yang rendah, merasa malu, sulit berkonsentrasi, perasaan bersalah, denial atau tidak bisa menerima kenyataan, susah tidur (insomnia). Bahkan gangguan dampak paling buruk dari PTSD yang akut adalah bunuh diri.

Physical Distancing

Aturan physical distancing atau PSSB juga dapat mengakibatkan perubahan perilaku individu, seperti sikap muda curiga, membentuk jarak sosial (sosial gap), membatasi diri dalam bersosialisasi serta berinteraksi pada segala aspek kehidupan.

Orang-orang yang berada pada kluster tersebut diatas secara otomatis juga akan membentuk defence mechanism (mekanisme pertahanan diri) pada dirinya.

Menurut Freud, mekanisme tersebut merupakan proses tidak sadar ke proses pemutar balikkan kenyataan yang sebenarnya, seperti membentuk reaksi, fiksasi, denial, proyeksi, rasionalisasi, pengalihan, regresi, fantasi, intelektualisasi. 

Mekanisme pertahanan diri tersebut bisa hadir di masa pademi covid-19 merupakan respon  alamiah ketika manusia mendapatkan stimulus dari kondisi di masa pandemi covid-19, tetapi ketika sistem pertahanan diri tersebut tidak mampu menghalau derasnya tekanan pandemi  covid-19, maka akan timbul gejolak mental dalam diri, diantaranya stress dan trauma. 

Dimasa  pandemi covid-19 kehidupan sosial pasti mengalami perubahan, baik dari interaksi dengan lingkungan, teman, tetangga, tempat kerja dan sekolah. Oleh sebab itu, sangat penting diperhatikan oleh semua pihak, tak terkecuali pemerintah, tim medis, relawan (tim gugus) dan media pemberitaan untuk menyampaikan informasi yang akurat tidak menakut-nakuti, provokatif dan  tidak melakukan hal-hal yang berlebihan dalam penangnannya.

Tujuannya agar masyarakat tidak terjebak pada ambivalensi dan mis-informasi yang dapat memperparah keadaan mengakibatkan chaos (kekacauan) sosial. Berupaya merahasiakan setiap orang yang dinyatakan suspect covid-19 hal tersebut dapat meminimalisir gangguan mental akibat pandemi covid-19.

Dapat Diatasi

Sebenarnya PTSD  dapat diatasi secara mandiri dengan mendekatkan diri kepada Tuhan dan  lingkungan sosial, terapi psikologis atau spiritual, mengalihkan pikiran dengan hal-hal positif, melakukan aktifitas yang mempu membuat diri menjadi santai (relax) serta menghindari mengkonsumsi obat diluar anjuran dokter dan minuman beralkohol.

Pasca Covid-19 Stigma negatif terhadap korban covid-19 juga harus menjadi perhatian kita bersama dengan cara mendesain lingkungan kita sebagai tempat rehabilitasi raksasa dan berupaya menerima eks positif covid-19. Menerima mereka dengan tangan terbuka, merupakan solusi psikologis agar trauma dan gangguan mental lainnya tidak bertambah buruk, sehingga mantan pasien secara psikologis dapat pulih seperti sediakala. 

Penulis: Muh. Qadri 

(Alumni Fakultas Psikologi UIT Makassar, Ketua PMII Komisariat UIT 2014-2018)