Sulbar

Potret Penanganan Bencana di Sulbar

Potret Penanganan Bencana di Sulbar

Seputarsulawesi.com, Mamuju- Gempa magnitudo 6,2 skala richter yang mengguncang Kabupaten Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat pada Jumat 15 Januari 2021 lalu tak hanya mnenyisakan puing-puing reruntuhan bangunan, tetapi juga mengakibatkan korban jiwa dan ribuan pengungsi. 

Di lokasi pengungsian, warga tak hanya kelalahan dan stres, tetapi juga kedinginan dan mulai terserang berbagai macam penyakit. Tenda-tenda darurat tak mampu melindungi diri dan keluarga mereka dari cuaca dingin, sehingga beberapa pengungsi dikabarkan meninggal dunia karena kedinginan. 

Baca juga: Pemerintah Wajib Prioritaskan Penanganan Kesehatan di Lokasi Pengungsian

Bahkan sebelum berita Nurbia dan Al Fauzi mencuat di media dan jejaring media sosial, di tenda pengungsian Kota Tinggi, Malunda, Kabupaten Majene, dikabarkan seorang warga bernama Sahura meninggal dunia. Diduga perempuan berusia 80 tahun itu kedinginan.

“Kasus tersebut terjadi  tanggal 19 Januari, dan tidak sempat terpublikasi lewat media.” kata Subair. 

Subair menilai, penanganan warga terdampak bencana di Sulbar tidak optimal, pemerintah setempat tampak tidak siap dalam hal penanganan bencana. Hal itu terlihat dari petugas bencana yang tidak terlihat profesional, dan terkesan sedang belajar menangani bencana. 

Baca: Pengungsi di Desa Bambangan Majene Mulai Terserang Demam 

Berbeda dengan Kabupaten Wajo, menurut Subair, petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Wajo cukup serius dan siap menghadapi bencana. Kesiapan tersebut, bisa dilihat dengan adanya data pengusaha loundry yang ditugaskan khusus mencuci pakaian bekas, sumbangan warga, kemudian dipacking dan selanjutnya dibagikan kepada warga yang membutuhkan.  

Subair mengatakan, BNPB Wajo memang betul-betul tanggap bencana, sehingga tidak mengherankan jika lembaga ini, bisa hadir lebih awal di Mamuju, lengkap dengan peralatan dan personilnya. 

“Di lokasi bencana, mereka membuka posko dapur umum,” katanya lagi.

Sebelumnya, Ketua PSI Sulbar, Ahmad Zaky Al-Mahdaly juga meyampaikan pandangan yang sama. Ia mengatakan,  pemerintah di Sulbar tidak menjalankan mitigasi bencana dengan baik, bahkan terlihat lemah dalam hal pemahaman manajemen bencana.

Selengkapnya baca:  Ketua PSI Soroti Penanganan Bencana di Sulbar

Zaky mengatakan,  pemerintah setempat hanya merespon kebijakan pemerintah pusat, selebihnya tidak ada. Andai tak ada relawan yang antusias bekerja di lokasi, kata Zaky, pemerintah Sulbar dipastikan kewalahan menghadapi dampak bencana.