Sulsel

Saat Kematian Menjadi Sebuah Kepastian

Saat Kematian Menjadi Sebuah Kepastian

Seputarsulawesi.com, Makassar- I Made Sukarta, Kordinator Jalin dalam pemaparan materinya di acara dialog publik yang digelar oleh Badan Eksekutif Persekutuan Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Timur (STT INTIM), Sabtu kemarin (28/11) mengatakan bahwa, tindak kekerasan terjadi disebabkan karena manusia tidak mampu menahan diri dan dominannya perasangka negatif dalam diri setiap orang yang berbeda, termasuk orang yang berbada agama.

"Jika persoalan salam saja perasaan kita sudah lain mendengar salam orang berbeda dengan kita, berarti itu sudah salah satu tanda-tanda bahwa kita tidak bisa menerima keberadaan orang lain. Jika demikian, maka kerukunan pun akan semakin sulit diterapkan," papar pria bernama lengkap I Made Sukarta ini.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut I Made juga menyampaikan bahwa dirinya dan beberapa tokoh agama sering kali ditugaskan untuk mengsurvey kelayakan pembangunan rumah ibadah di Makassar. Salah satu persolan yang kerap ia temukan adalah persoalan pempembagunan rumah ibadah yang berdekatan dengan rumah ibadah umat lain. Padahal menurut I Made, itu bukan persoalan, yang menjadi persoalan menurutnya adalah ketidakmampuan umat beragama untuk menerima  keberadaan umat lain yang berbeda agama.

"Terus apa masalahnya kalau berdekatan? mesjid Istiqlal juga di Jakarta berdekatan dengan Gereja, tapi tidak pernah ada masalah. Bagi saya, hal itu bukan masalah, tapi yang menjadi masalah adalah kita sendiri yang tidak bisa menerima keberadaan umat lain yang berbeda dengan kita. Jika kenyataannya seperti ini bagaimana mungkin kita bisa hidup rukun?," ungkap I Made

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Pak Made ini mengatakan, dialog antar umat beragama menjadi penting, karena konflik antar umat agama itu terjadi dikarenakan persoalan kesalahpahaman. Oleh karenanya, dalam menjaga kerukunan, pemahamanan antar umat beragama menjadi penting untuk terus ditumbuhkan melalui dialog.

Sementara itu, Dr. Mustari Mustafa saat menjadi pembicara ke 3 dalam dilaog tersebut mengatakan bahwa sejatinya agama menjadi  kritik terhadap kebodohan dan  keterbelakangan. Keterbelakangan terjadi pada orang-orang beragama karena agama hanya dimaknai dan dilakoni sebatas ritual, belum menjadi praktik hidup.

Selain itu, Mustari juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia ini akan diakhiri kematian. Kematian menurut Mustari ada dua, yaitu, kematian simbolik, dimana manusia diistirahatkan oleh Tuhan karena ia terlalu baik di dunia ini.  Kedua kematian sebagai upaya untuk mengistirahatkan kejahatan karena sudah terlalu banyak manusia yang resah akibat ulah kejahatan manusia tersebut.

"Kalau kita sepakat bawah mati itu adalah kepastian, maka mari kita berlomba-lomba untuk mencari kematian, biar kita mati dalam keadaan damai," ungkpanya. (SAP)

Iklan Tengah