Sulbar

Sikapi Pernyataan Maman Suratman, Pemuda dan Masyarakat Adat Tapango Gelar Rapat Bersama

Sikapi Pernyataan Maman Suratman, Pemuda dan Masyarakat Adat Tapango Gelar Rapat Bersama

Keterangan Gambar : Group WA AMP Palili

Seputarsulawesi.com, Polewali Mandar- Pernyataan Maman Suratman yang mengatakan, “Marasa Gayana I Puang, Maraqdiana To Cangngo" yang dalam Bahasa Indonesia berarti "Bagus Gayanya Puang, Raja dari Orang Bodoh" berbuntut panjang.  

Sejumlah organisasi dan lembaga adat di Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar, Kamis, 25 Juni 2020 menggelar rapat bersama guna menyikapi pernyataan Maman Suratman yang unggah di laman sosial Facebook tersebut.  

Baca juga: Ansor dan Bawaslu Sulsel Diskusikan Tantangan Demokrasi di Era Pandemik

Reaksi dari sejumlah organisasi dan lembaga adat itu dilakukan, karena Ali Baal Masdar adalah Mara'dia Tapango, yang diangkat jauh sebelum beliau menjadi Gubernur.

Dalam rapat tersebut, sejumlah perwakilan organisasi dan lembaga adat bersepakat untuk memperkarakan pemilik akun bernama Maman Suratman itu, baik secara adat maupun secara hukum yang berlaku di Indonesia.


Salah seorang tokoh pemuda masyarakat Tapango, Dedy Irawan menyampaikan, pertemuan tersebut adalah upaya tindak lanjut dari pernyataan yang disampaikan oleh Maman Suratman di akun media sosialnya.

Dedy mengatakan, pernyataan Maman Suratman itu telah melecehkan warga dan masyarakat adat Tapango. Apalagi Ali Baal Masdar, yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Sulbar adalah Mara'dia Tapango.

"Konsolidasi Aliansi Pemuda dan Masyarakat Adat Tapango ini untuk menindaklanjuti pernyataan Maman Suratman yang menyinggung secara adat masyarakat Tapango," jelas  Ketua umum AMP Palili, Dedy Irawan kepada Seputarsulawesi saat dijumpai di kediamannya, di Desa Tapango, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar, Kamis, 25 Juni 2020.

Lebih lanjut, Dedy menyampaikan, postingan Maman itu tidak hanya akan diperkarakan secara hukum, tapi juga adat yang berlaku di Tapango.

"Ketika melakukan pelanggaran ringan maka akan diberi sangsi adat Mallemba baje (mengiring makan tradisional Mandar), tetapi jika pelanggarannya berat, maka dia akan dikenakan sanksi Milekka Bombo (marendeng bombo) atau mempersembahkan kerbau kepada adat," jelas Atlet Taekwondo ini.