Nasional

Soal Meme Kue Klepon, Ade Armando; Itu Bukan Berita Bohong

Soal Meme Kue Klepon, Ade Armando; Itu Bukan Berita Bohong

Seputarsulawesi.com, Makassar- Majelis Ulama Indonesia (MUI) sempat berang soal adanya unggahan kue Klepon tidak Islami. Bahkan Sekretaris Komisi MUI, KH Asrorun Niam Sholeh menilai, unggahan yang sempat viral jejaring media sosial itu adalah berita bohong yang bisa menyulut persoalan SARA serta berpotensi melecehkan agama.

"Postingan itu berpotensi melecehkan ajaran agama," kata Asrorun Niam sebagaimana yang dilansir dari Suara.com 

Baca juga: Ihwal Perayaan Ulang Tahun dan Fenomena Anak Biologis

Atas dasar itu, Asrorun Niam meminta agar aparat mengusut dan menindak pembuat meme tersebut karena telah membuat kegaduhan.

Menanggapi hal tersebut, pakar komunikasi Indonesia, Ade Armado mengaku heran dengan sikap MUI tersebut. Menurutnya, meme itu bukan berita bohong, dan tujuannya bukan untuk menyulut permusuhan.

Meme itu, kata Armando, dibuat untuk menyindir para pemuka Islam yang selama ini justru sudah mempermalukan Islam dengan segala fatwa yang mengada-ada, dan juga kerap menyebarkan kebencian. Justru dengan adanya meme klepon tidak islami itu,  MUI harusnya bisa introspeksi diri.

“Meme itu tidak melecehkan agama, meme klepon itu menyindir kelakuan para pemuka agama yang ironisnya selama ini didiamkan MUI," ujar  Ade Armado sebagaimana yang dilansir dari  akun youtube Cokro TV

Armando mengatakan, sebagai lembaga ulama, MUI seharusnya bisa bicara ketika ada ulama, ustad atau para pemuka Islam yang secara semena-mena mempertontonkan kebodohan yang bisa membuat orang menyangka bahwa Islam memang terbelakang.

“Fatwa klepon tidak Islam itu memang cuma karang-karangan pembuatnya. Tapi bukankah begitu banyak pengharaman lainnya yang memang secara serius dinyatakan si pemuka agama?,” kata pria kelahiran Jakarta ini.

Ia pun mencontohkan fatwa keharaman mengunjungi Candi Borobudur, pengharaman menyaksikan drama korea, pengharaman menyanyikan lagu “naik-naik ke puncak gunung”, pengharaman menggunakan konde, pengharaman goo food, penggunaan kaos read devil’s dan pengharaman menabung di Bank.

“Bahkan yang paling fenomenal, bukankah ada hoaks bahwa MUI pernah mengharamankan mengucapkan selamat natal,” katanya lagi.

Justru yang terakhir ini, MUI seharusnya bicara dan mengclearkan tuduhan atau fitnah tersebut, namun sayang, kata Armando, MUI bungkam seribu bahasa.

Selain itu, Armando juga menyesalkan sikap diam MUI dengan adanya fatwa pengharaman yang tidak masuk akal itu. Karena sikap itu menjadi penyebab ustad-ustad merasa bisa bicara apa saja, termasuk mengharamkan lagu “naik-naik ke puncak gunung”.

Tak hanya itu, Tengku Zulkarnain juga tak luput dari sorotan Armando. Ia juga menyesalkan sikap diam MUI saat Waksekjend MUI itu menghina orang jawa, serta adanya orang mengaku muallaf dan mendadak populer karena ceramahnya menjelek-jelekkan agama yang diyakini sebelumnya.

Belum lagi diantara mereka ada yang berbohong mengaku sebagai anak Kardinal atau lulusan universitas Vatikan.  Demikian pula, penyerangan pemakaman Sunda wiwitan di Kuningan, penyerangan Vhihara dan Klenteng di Tanjung Balai, penyegelan dan pembangunan gereja, Aksi 212 yang melibatkan anak-anak dalam unjuk rasa, juga tak luput dari sikap diam MUI.

“MUI terlalu lama diam, MUI seharusnya bicara ketika ada pemuka agama menyatakan hal-hal yang tidak masuk akal,” jelasnya.

Makanya itu, ia pun berpandangan, MUI tak usah kebakaran jenggot dengan adanya meme yang mengatakan kue klepon tidak islami, justru yang harus dilakukan adalah MUI harus bisa menjaga agar Islam jangan sampai disalahartikan sebagai agama terbelakang.

Selain itu, di video berdurasi 8: 25 menit itu, Armando juga membeberkan sikap diam MUI dengan adanya sekelompok orang berkampanye khilafah, kampanye menjalangkan poligami, ustad terkemuka menganjurkan minum kencing onta, virus corona yang hanya hinggap di tubuh orang yang tidak beriman, sehingga tak ada masalah ketikan jamaah berkumpul di masjid tanpa protokol Covid-19.

Demikian pula, Armando juga meyesalkan sikap diam MUI saat banyak ujaran kebencian dan kebohongan disebarkan atasnama Islam. Salah satunya ketika ada seorang ustad beranama Abdul Somad mengatakan dalam salib umat Kristen terdapat Jin Kafir, Habib Riziq yang menghina kelahiran Yesus, Ketua FPI, Sobri Lubis yang mengatakan “Ahmadiyah halal darahnya”.

Atas dasar itu, ia pun menilai, MUI bukan lembaga yang peduli terhadap kemaslahatan umat dan bangsa. MUI, katanya membiarkan ulama di Indonesia terus menyebar kebohonan dan kebencian, sehingga dengan demikian, MUI tampak sebagai organisasi usang dan tidak bermanfaat, bahkan membiarkan Islam sebagai ajaran terbelakang.

“Saran saya pada para ulama di MUI, jangan diam, jangan bungkam, ketika para pemuka Islam dan organisasi Islam itu memanipulasi Islam menyebarkan kebohongan, kebencian, dan kebodohan,” tegasnya.

Olehnya itu, ia meminta agar MUI mengajarkan umat untuk senantiasa menggunakan salah satu karunia terbesar Tuhan pada manusia, yaitu akal sehat.

“Terus gunakan akal sehat, karena hanya dengan akal sehat, agama bermanfaat,” tutup Ade Armando.