laporan anda

Tragedi Amarah: Dari Pemberhentian Damri Hingga Terjadinya Amarah 1996 (Bagian II)

Tragedi Amarah: Dari Pemberhentian Damri Hingga Terjadinya Amarah 1996 (Bagian II)

Keterangan Gambar : Istimewa

Keesokan harinya, ke-12 mahasiswa kembali rapat pemantapan aksi di Kantin Fakultas Ekonomi. Pukul 09:00 pagi , ke-12 mahasiswa tersebut keluar dari kampus dan menggelar aksi sebagaimana yang mereka rencanakan sebelumnya. 

Setelah melakukan orasi beberapa waktu, muncullah Damri dari Bandara menuju Kota. Kemudian Opan dan mahasiswa atas nama Mail melakukan pemalangan untuk memberhentikan Damri tersebut.

Baca juga: Amarah 1996: Berawal dari Kosolidasi 12 Kader PMII RE UMI (Bagian I)

Cimang, sapaan akrab Firman mengatakan bahwa setelah Damri diberhentikan, semua penumpang Damri diminta untuk turun dan diarahkan menggunakan alat transportasi lain, salah satu penumpang adalah anggota TNI yang kemudian diberi penjelasan mengenai tujuan aksi, sehingga diapun memahaminya.

Setelah itu, kata Umar Ringkasa yang juga tergabung dalam 12 mahasiswa yang aksi bahwa setelah Damri diberhentikan, kuncinya dibuang diparit Depan Kampus. Damri itulah yang dijadikan sebagai tempat untuk melakukan orasi, termasuk tempat menyampaikan tuntutan kepada Walikota agar mencabut SK kanaikan tarif Angkot dan mengembalikan pada tarif sebelumnya.

Tidak berselang lama, intensitas mahasiswa yang bergabung semakin banyak. Sehingga aksi tidak lagi dalam kontrol oleh ke-12 mahasiswa yang aksi dari awal. 

Opan yang merupakan pimpinan aksi ke-12 mahasiswa itu memutuskan untuk menarik diri dan meninggalkan tempat. Karena dianggap bahwa aksi tidak lagi kondusif, semua elemen mahasiswa sudah tergabung manjadi satu-kesatuan gerakan untuk menuntut pencabutan SK Walikota terkait tarif Angkot.

Umar Ringkasa dan Andi Sultan (Almarhum) kembali masuk ke kampus untuk membayar uang ujian negara yang sudah mereka rencanakan malamnya. Termasuk telah mempersiapkan dokumen-dokumen untuk mengikuti ujian Negara.

Akhirnya, aksi tersebut pecah, dan aparat memaksa membubarkan aksi hingga menangkapi mahasiswa sampai masuk ke dalam kampus. Umar Ringkasa dan Andi Sultan (Almarhum) saat itu menyelamatkan diri ke atas plafon kampus lantai 4. 

“Kami bersama banyak sekali mahasiswa dan beberapa dosen di atas plafon, termasuk mahasiswi. Beberapa mahasiswa melempari aparat dengan menggunakan kursi guna menghalanginya agar tidak tertangkap,” jelas Umar saat menggambarkan situasi saat itu.

Situasinya sangat mencekam, tindak aparat sangat represif. Beberapa mahasiswa ditangkap dan dilepas bajunya, kemudian dinaikkan ke mobil. Salah satu yang ditangkap adalah Abdul Kadir, S.E. yang saat itu menjabat sekretaris 1 BPM Fakultas Ekonomi.

Umar Ringkasa dan Andi Sultan (Almarhum) berhasil keluar dari kampus lewat jalur dekat Universitas 45 (saat ini Universitas Bosowa). Kemudian Andi Sultan (Almarhum) kembali masuk ke kampus dan berpisah dengan Umar Ringkasa.

“Setelah itu, saya tidak lagi berkomunikasi dengan Andi Sultan (Almarhum), hingga saya pulang dan tertidur di kosan Irianto. Kemudian orang tua Andi Sultan datang mencarinya dan menanyakan kepada saya, karena dia belum pulang,” jelas Umar. 

Kemudian dicarilah Andi Sultan lewat beberapa temannya ke Sekretariat PMII RE UMI dan ke beberapa Polsek, karena saat itu ada beberapa mahasiswa yang tertangkap, namun tidak ditemukan juga.

Abdul Kadir memaparkan, situasi mahasiswa yang tertangkap waktu itu, termasuk dirinya ditangkap bersama dengan Rais Dzuljais dari Fakultas Agama yang juga kader PMII Agama UMI. 

“Saya dan beberapa mahasiswa yang ditangkap dipukuli oleh aparat kemudian di bawa ke Rumah Sakit Plamonia,” terangnya. 

Kemudian  Pada pukul 19.00 malam terjadi negosiasi dengan aparat, namun tidak menemui titik temu. Sehingga memicu terjadinya gelombang aksi besar-besar oleh mahasiswa dari berbagai kampus di Makassar sebagai aksi solidaritas. Pukul 21.00 semua mahasiswa dibebaskan dan kembali ke kos masing-masing. (Bersambung)

Penulis: Muhammad Aras Prabowo

(Alumni Fakultas Ekonomi UMI, Mantan Ketua PMII RE UMI)

Keterangan tulisan: dikompilasi dari notulensi diskusi yang dilaksanakan oleh Alumni PMII RE UMI pada tanggal 28 April 2020 dengan tema:  “Tragedi Amarah 1996 sebagai Cikal Bakal Gerakan Penggulingan Orde Baru 1998”

Iklan Tengah