Sosok

Ulama Bersahaja Bergelar Guru Besar Tasawuf dari Tanah Mandar

Ulama Bersahaja Bergelar Guru Besar Tasawuf dari Tanah Mandar

Keterangan Gambar : Sumber Poto Sulbar.com

Seputarsulawesi.com, Polewali Mandar- Di kampung bernama Sepang, Banua-banua, di sebuah pelosok desa yang begitu lengang di Polewali Mandar. Tak ada deru mesin, asap knalpot dan riuh bunyi klakson kendaraan. Pada masa itu, hanya ketukan tapak kaki kuda menghantam bebatuan mengiringi jalannya kehidupan masyarakat Mandar. 79 tahun silam, di pelosok desa yang dengan segala kesahajaannya. Tangis pertama keluar dari mulut seorang bayi laki-laki memecah sunyinya malam. Dialah yang kemudian oleh ayahnya, Imam Sepang Pua’ Muhammad, diberikan nama Sahabuddin. Yang siapapun pasti takkan menduga kecuali Sang pemilik semesta bahwa hari itu, tepat 27 September 1937, telah lahir seorang anak yang takdirnya telah dituliskan menjadi Ulama dan bergelar Guru Besar Tasawuf Asia Tenggara dari IAIN Alauddin Makassar.

Sahabuddin kecil lahir di lingkungan keluarga yang religius. Ayahnya bernama Pua Muhammad, adalah Imam kampung yang diberi kepercayaan oleh warga desa Sepang untuk mengimami Masjid yang masih dipergunakan warga hingga kini. Ialah juga yang kemudian menjadi pewaris estafet ajaran tarekat Qadariyah dari Maha guru tarekat Qadariyah di Mandar, Almukarram KH Muhammad Shaleh yang bergelar To Matindo di Pambusuang. Dari sosok ulama kasyaf itulah Annangguru Sahabuddin banyak belajar ilmu spiritual, utamanya ilmu tarekat.

Bukan tanpa alasan mengapa di Sulawesi Barat, Jama’ah tarekat Qadariyah memiliki populasi yang sangat besar. Sejak bertolak dari Mekkah dan kembali ke tanah Mandar, Al Mukarram KH Muhammad Shaleh selanjutnya sedikit demikit mengajarkan tarekat tersebut kepada warga. Dimulai dari rumahnya dengan kelompok pengajian yang jumlahnya puluhan hingga bertambah jumlahnya lalu menyebar ke sejumlah daerah di Mandar, Makassar bahkan Kalimantan. Di antara sejumlah murid, adalah Prof KH Sahabuddin yang selalu setia, teguh dan ikhlas membimbing jama’ah dengan menggelar pengajian dari rumah ke rumah. Hal tersebut pulalah yang menjadikan Prof KH Sahabuddin menjadi murid kesayangan dari KH Muhammad Shaleh diantara murid-muridnya yang lain.

Sebagai seorang Guru Besar, KH Sahabuddin membumikan petuah Mandar menjadi mantra untuk semua orang. Annagguru Sahabuddin yang pernah menerima Ijazah ilmu dari Prof DR Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliky Al Husainy di Makkah kian memberkahi Beliau dalam mengajarkan adab-adab hikmah guna berkeliling dari kota-kota besar sampai pelosok pegunungan membimbing ribuan murid dari masyarakat kampung hingga kalangan akademisi kampus.Secara Ilmiah Beliau juga melalui tulisannya mengurai tasbih imaniah, seperti Menyibak Tabir Nur Muhammad, Metode Mempelajari Tasawwuf Menurut Ulama Sufi, Ziarah Kubur Rasululllah ala Sufi, serta Sisi Tasawwuf dalam Rukun Islam.

Dalam dunia birokrasi, beliau pernah menjabat Rektor Universitas Al Asy’ariah Mandar.  Dalam sebuah ulasan disalah satu Tabloid terbitan Universitas Al-Asy’ariah dengan Judul, “Prof Dr KH Sahabuddin; Pengabdianmu Tak Lekang oleh Waktu”, tercantum pengakuan dari salah seorang yang pernah bersinggungan langsung dengan kehidupan Beliau. Dia menceritakan tentang perjuangan Annangguru KH Sahabuddin dalam melakukan syiar ajaran tarekat Qadariyah dengan gigih dan tak kenal lelah. Perjuangan dalam membimbing jama’ah tidak jarang ditempuhnya dengan jarak ratusan kilometer dengan hanya menunggang kuda bersama istri tercintanya, Hajjah Hajaniah. Sosok perempuan yang tabah dan selalu setia mendampingi Anangguru KH Sahabuddin dalam setiap  perjalanan menunggangi kuda menapaki perbukitan terjal, curam dan penuh bebatuan di pelosok-pelosok negeri Polewali Mamasa. Jejak perjuangan itu masih bisa kita dapati hingga sekarang dari banyaknya jama’ah yang tersebar di Desa Ambopadang, Matangga, dan Desa Sattoko.

Hingga pada usianya yang tidak muda lagi, 68 tahun. Tatkala terjadi silang pendapat antara hasrat ikhtiar keluarganya untuk memeriksakan diri ke dokter, dengan isyarat kasyafnya Beliau. Sungguh Allah SWT melalui situasi itu menegaskan bahwa semua hamba mungkin Tahu Tuhan, namun tidak setiap hamba itu, kenal dengan Allah SWT. Setelah dialog dengan anak-anaknya yang mengikuti saran dokter agar Beliau menjalani operasi sebagai syarat kesembuhan. Justru dengan penuh kerendahan hati, Annangguru menjawab saran dokter itu dengan pertanyaan, “bagaimana mungkin kalian akan mengambil sesuatu dari tubuhku, sedangkan tubuh ini bukanlah aku yang punya?”. Semua  yang mendengar ucapan Beliau saat itu seketika terdiam, tak menduga ucapan itu yang akan keluar dari bibir Beliau.

Bahkan disela-sela istirahatnya, jama’ah yang datang berobat, meminta didoakan kesembuhannya semakin banyak. Hingga tiba saat salah satu dari yang datang itu bertanya kepada Beliau, “Amba’, kenapa ki tidak  berdoa juga kepada Allah, biar sembuh sakitta,”. Beliau justru menjawabnya dengan lirih, “memang benar melalui berkah Guruku, setiap yang datang berobat kepadaku, selalu disembuhkan oleh Allah. Akan tetapi, ketika Allah mengujiku dengan sakit ini, justru membuat saya semakin merasa malu berdoa untuk disembuhkan, karena ujian sakit ini amat kecil nilainya, dibanding banyaknya nikmat yang diberikan Allah kepadaku. Sontak keluarga dan perawat tak mampu lagi berkata apa-apa, selain pasrah penuh tangis.

Beberapa hari setelahnya, Beliau berpesan kepada keluarga dan yang menjenguknya, “kalian bersiap-siaplah karena akan ada acara besar di Mandar, dan kita semua akan menghadirinya.” Ketika malam baru saja mengemasi senja. Ba’da Isya, 6 Februari 2005, bertepatan dengan nama hari yang disebut hari Ahad. Malam itu, hari yang penuh makna, satu yang tak terbilang, Beliau pamit kepada kita semua melanjutkan perjalanan spiritualnya keharibaan Sang Pencipta. Tak terbendung lagi, air mata tumpah seketika pada banyak orang yang ditinggalkan. Terlebih bagi Hj Hajaniah istrinya tercinta, begitu juga dengan keempat anak perempuan dan tiga anak laki-laki serta cucu yang ditinggalkan.Keesoknya, tepat di Hari Senin, di tengah rinai gerimis dari langit, diiringi balutan cahaya pelangi yang memancar dari liang kubur beliau saat itu, prosesi pemakamannya berlangsung khidmat bersama tangis ribuan pelayatnya. (MCP)

*Diolah dari berbagai sumber

Baca juga: Besok Haul Annanggurutta KH. Sahabuddin Digelar di Majene

Iklan Tengah